tidur, tafsir mimpi, mimpi, mimpi bertemu nabi

Makruh Tidur Setelah Shalat Subuh dan Ashar, ini Alasannya

Allah mengingatkan kepada manusia akan pentingnya nikmat waktu. Banyak orang yang terlena, tak merasa bahwa dirinya telah mencapai masa yang tak produktif dalam bekerja sehingga ia menyesal tak memiliki apapun. Begitu orang yang lupa kewajiban dalam beribadah akan mengalami penyesalan yang mendalam ketika maut akan menjemputnya tanpa adanya persiapan yang matang.

Didalam Surat Al-Ashr, Allah bersumpah dengan waktu Ashar atau demi masa. Manusia akan mengalami kerugian yang mendalam kecuali orang yang beriman dan beramal kebaikan serta selalu berwasiat dalam kebenaran dan juga dalam kesabaran baik saat mengahadapi musibah atau sedang melakukan ketaatan.

Dari penjelasan ini maka manusia harus menggunakan waktu sebaik-baiknya terutama tak tidur selepas shalat subuh dan Shalat ashar karena ada hikmah yang terkandung didalamnya.

Syeh Abu al-Aun al-Hambali dalam kitab Ghidza’ Al-Bab Fi Syarhi Mandzumatul Adab menjelaskan,

(ﻭَ) ﻳُﻜْﺮَﻩُ (ﻧَﻮْﻣُﻚ) ﺃَﻳُّﻬَﺎ اﻟْﻤُﻜَﻠَّﻒُ (ﺑَﻌْﺪَ) ﺻَﻼَﺓِ (اﻟْﻔَﺠْﺮِ) ﻷَِﻧَّﻬَﺎ ﺳَﺎﻋَﺔٌ ﺗُﻘَﺴَّﻢُ ﻓِﻴﻬَﺎ اﻷَْﺭْﺯَاﻕُ ﻓَﻼَ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ اﻟﻨَّﻮْﻡُ ﻓِﻴﻬَﺎ

Dimakruhkan tidur setelah shalat Shubuh karena saat itu merupakan waktu terbaik untuk memulai mencari Rizki atau bekerja maka tak baik bila digunakan untuk tidur.

(ﻭَ) ﻳُﻜْﺮَﻩُ ﻧَﻮْﻣُﻚ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﺑَﻌْﺪَ (اﻟْﻌَﺼْﺮِ) ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳُﺨَﺎﻑُ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻘْﻞِ ﻣَﻦْ ﻧَﺎﻡَ ﻓِﻲ ﺗِﻠْﻚَ اﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ.
ﻗَﺎﻝَ اﻹِْﻣَﺎﻡُ ﺃَﺣْﻤَﺪُ – ﺭَﺿِﻲَ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ -: ﻳُﻜْﺮَﻩُ ﺃَﻥْ ﻳَﻨَﺎﻡَ ﺑَﻌْﺪَ اﻟْﻌَﺼْﺮِ ﻳُﺨَﺎﻑُ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻘْﻠِﻪِ

Begitu juga makruh setelah shalat ashar karena akan dikhawatirkan kecerdasan orang yang tidur pada waktu ini. Hal ini senada dengan pendapat imam Ahmad RA yang menyatakan bahwa makruh setelah ashar dikhawatirkan hilang akalnya.

Sedangkan Abu Abdurrahman as-Sulami dalam Tabaqat As-Sufiyah mengutip perkataan Fudhail bin Iyadh yang menyatakan bahwa ada tiga hal yang menjadikan hati manusia menjadi keras. Pertama disebabkan banyaknya makan. Kedua, terlalu banyak tidur. Ketiga, berlebihan dalam berbicara.

Dari penjelasan ini, orang mukmin harus menjaga pentingnya nikmat waktu agar hidupnya semakin bermutu dan memiliki hati yang tak seperti batu.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *