ilmu, nasehat, Empat Hal ini, Islam menjadi Kokoh

Mariam al-Ijliya, Astronom Wanita dari Aleppo

Dikisahkan dalam bibliografi oleh al-Fihrist Ibnu al-Nadim bahwa ada seorang mujahidah berprestasi dalam dunia astronomi. Dialah Mariam al-Astrolabiya al-Ijliya yang hidup pada abad ke-10 di Aleppo, Suriah. Dia merupakan ilmuwan yang namanya dikenal karena merancang dan membangun astrolabe. Dia adalah putri seorang astrolab yang dikenal sebagai al-ʻIjliyy al-Asturlabī. Nama Mariyam pun adalah nama yang disandangkan padanya oleh the Syrian Archaeological Society. Sedikit yang diketahui bahwa nama sebenarnya adalah Al-‘Ijliyah binti al-‘Ijli al-Asturlabi.  Disebutkan oleh ibn al-Nadim , ia adalah seorang magang ( tilmīthah) dari Muḥammad ibn ʻAbd Allāh Nasṭūlus yang merupakan pembuat astrolabe tertua yang masih hidup, tertanggal 927/928 Masehi.

Astrolab adalah instrumen utama astronomi kuno. Berfungsi persis seperti GPS di era modern. Alat ini pertama kali dikembangkan oleh bangsa Yunani. Pada Abad ke-10, seorang cendekiawan muslimah menyempurnakannya.

GPS atau kependekan dari Global Positioning System adalah salah satu elemen penting dari infrastruktur informasi global. Teknologi ini merupakan alat yang membantu manusia di bidang keilmuan astronomi, astrologi, dan horoskop atau mudahnya menentukan posisi, navigasi dan waktu.Teknologi ini digunakan di berbagai bidang kehidupan manusia modern, mulai dari perdagangan global, transportasi, hingga militer. Bagi umat Muslim astrolobe digunakan untuk menentukan kiblat, waktu shalat, dan awal Ramadahan serta Idul Fitri.

Se-primitif apapun, manusia selalu ingin mengetahui dari mana ia berasal, sedang berada dimana ia sekarang, dan kemana ia akan pergi selanjutnya? atau sebuah pertanyaan yang terdengar sangat sederhana sekarang, tapi begitu kompleks pada masa lalu, “jam berapa sekarang?”. Jadi alat ini merupakan tuntutan alamiah dari eksistensi manusia.

Pada abad ke-9 sampai ke-10, orang yang pandai membuat astrolobe disebut insinyur mesin, dan tidak semua orang menguasai ilmu tersebut. Maryam merupakan wanita pertama yang dikenal sebagai insinyur mesin dalam bidang astronomi.

Kisah Mariam sangat dikenal di Eropa, bahkan ia mendapat julukan al-asturlabiy atau al-astrolobe oleh ilmuwan Eropa. Karena keahlian dan kepintarannya, para ilmuwan astronomi di Eropa banyak yang berkiblat kepada Mariam, sehingga ilmu astronomi dapat berkembang pesat seperti sekarang ini.

Mariam mendapatkan pelajaran membuat astrolobe dari ayahnya yang merupakan pegawai pembuat astrolobe terkenal di Baghdad. Teknik pembuatannya pun sangat rahasia. Namun, Mariam membuatnya lebih rumit dan inovatif.

Nama al-Ijli diambil dari nama Bani Ijli. Sebuah suku yang merupakan bagian dari Bani Bakr,salah satu Bani Arab dari Rabiah.

Sehingga, Mariam dan keluarganya awalnya merupakan penghuni Najd, di tengah Arabia. Tapi, mereka bermigrasi karena menjadi salah satu Badui yang harus berpindah hingga perbatasan selatan Mesopotamia. 

Secara turun temurun, keluarga Ijliya memang selalu membuat alat yang berkaitan dengan astronomi.

Setelah mengetahui rahasia profesinya itu, Mariam diajak ayahnya untuk berguru ke orang yang sama. Mereka berguru pada Bitolus bersama 16 orang insinyur lainnya.

Namun, tidak diketahui di mana dan kapan guru astronomi tersebut berada saat Mariam dan ayahnya berguru. Dalam kisahnya, Bitolus justru merupakan ahli astronomi yang paling terkenal.

Pada tahun 1990, seorang astronom bernama Hendry E. Holt menemukan sabuk utama asteroid 7060 di pusat observasi Palomar. Ia menamakan temuannya ini dengan ’Al-‘Ijliya’, untuk menghormati wanita hebat dari abad ke 10 Masehi ini.

Terakhir sosoknya menjadi inspirasi tokoh Binti dalam novel fiksi ilmiah karya Nnedi Okorafor yang terbit pada tahun 2015. Novel ini sudah dibuat film dan rilis pada 2016. Dalam pengakuannya, Nedi Okorafor menyatakan bahwa tokoh protagonist Binti dalam cerita ini, terinspirasi dari sosok Mariaam yang kisahnya ia kenal saat mengunjungin festival buku di Uni Emirat Arab.

Siti Rohimah, S.S.I

Seorang yang tertarik di bidang sastra dan literasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *