Masuk Rumah Syetan pun Berbayar

Abu al-Lais as-Samarkandi dalam Tanbih al-Ghafilin mengutip sebuah kisah seorang Ulama yang bernama Ibrahim bin Adham yang sedang bepergian, kemudian ia ingin membuang hajat di sebuah toilet, namun dilarang oleh penjaganya.

Agama Islam selalu menganjurkan kepada pemeluknya untuk selalu berdoa dimanapun dan kapanpun ia berada, sampai mau ke kamar mandi pun ada doanya seperti keterangan dalam kitab Shahih al-Bukhari yaitu

اﻟﻠﻬﻢ ﺇﻧﻲ ﺃﻋﻮﺫ ﺑﻚ من الخبث والخبائث


Artinya: Ya Allah, Aku meminta perlindungan kepada engkau dari Syaitan laki-laki dan perempuan.

Abu al-Lais as-Samarkandi dalam Tanbih al-Ghafilin mengutip sebuah kisah seorang Ulama yang bernama Ibrahim bin Adham yang sedang bepergian, kemudian ia ingin membuang hajat di sebuah toilet, namun dilarang oleh penjaganya. Penjaganya berkata:

“Toilet ini berbayar, maka dilarang masuk kecuali sudah membayar terlebih dahulu.”

Mendengar penjelasan sang penjaga, Ibrahim bin Adham menangis, dan seraya mengadu kepada Tuhannya:

اﻟﻠﻬﻢ ﻻ ﻳﺆﺫﻥ ﻟﻲ ﺃﻥ ﺃﺩﺧﻞ ﺑﻴﺖ اﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻣﺠﺎﻧﺎ، ﻓﻜﻴﻒ ﻟﻲ ﺑﺪﺧﻮﻝ ﺑﻴﺖ اﻟﻨﺒﻴﻴﻦ ﻭاﻟﺼﺪﻳﻘﻴﻦ ﻣﺠﺎﻧﺎ

“Wahai Tuhanku, Aku tak diperkenankan untuk memasuki rumah syaitan ini secara gratis, bagaimana aku bisa memasuki rumahnya para Nabi dan Orang-orang yang benar (Shiddiqin) secara gratis.

Dari penjelasan kisah diatas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk memasuki sarang syaitan saja harus berbayar, maka untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi dihadapan-Nya harus berusaha semaksimal mungkin dalam beramal kebaikan dan membutuhkan kesiapan fisik dan modal.

Leave a Reply