Memahami Pola Rejeki

Siapa yang tidak mengenal warung UPNORMAL?. Kalangan muda pasti paham. Ada yang masih ingat kisah dibalik suksesnya warung makan tersebut?. Menurut founder warung tersebut, dulu ia membuka usaha nasi goreng mafia. Pada hari pertama usaha nya dibuka, ia menyediakan 1.000 (seribu) porsi nasi goreng gratis untuk dibagikan kepada pembeli yang datang hari itu. Menariknya hari itu, mereka membuat pengumuman seperti ini, “GRATIS 1.000 PORSI NASI GORENG HARI INI, CUKUP DIBAYAR DENGAN DOA.”

Benar saja, 1.000 porsi gratis dibagikan pada hari itu dengan niat sedekah. Para pembeli yang makan nasi goreng tersebut diberi pula secarik kertas dengan tulisan : “Ya Allah, semoga usaha nasi goreng ini laris, berkah dan bermanfaat.” Tidak disangka hari selanjutnya berjualan omzet mereka mulai ratusan ribu hingga jutaan dalam sehari, dan itu masih terus bertambah tiap harinya.

Ada yang iri pada temannya yang cantik atau tampan rupawan. Ketika berjalan bersama semua mata seperti tertuju kepadanya. Namun siapa sangka, bertahun-tahun lama tak berjumpa, setelah berjumpa wajahnya penuh jerawat menghiasi wajah rupawan nya dulu. Badannya 3x lebih besar dari dulu saat masih sering jumpa. Kulitnya lebih gelap dari sebelumnya. Ternyata setelah menikah, ekonominya tidak se-stabil dulu saat ia masih gadis.

Ada yang berusaha hidup ngirit bahkan bisa dibilang sudah sampai taraf pelit. Semua pengeluaran diatur sedemikian irit, bahkan untuk bersedakhpun sayang untuk diberikan. Hingga suatu waktu ujian finansial datang bertubi-tubi. Mulai harus renovasi rumah karena hal mendesak sampai pengeluaran kecil yang intensitasnya super dan diluar dugaan.

Ada pula yang iri kepada tetangganya. Rumah mewah, mobil berjejer di garasi. Jika sang nyonya keluar rumah, leher dan pergelangan tangannya terlihat berkilau karena perhiasannya yang seperti toko mas berjalan. Beberapa tahun kemudian, pintu rumahnya terdengar digedor kasar oleh seorang debt collector karena beberapa bulan belakang tak membayar cicilan hutang ratusan juta tepat waktu.

Ada pula yang suami istri terlihat romantis. Sang suami yang tampan rupawan selalu mengajak istri untuk kajian agama. Semua terlihat indah karena suami ingin bersama istri hingga surgaNya. Meminta istri untuk menutup aurat sampai bercadar agar kecantikannya hanya untuk suami. Sampai tak ada yang menyadari bahwa ternyata di dalam rumah tangganya berantakan karena poligami yang dilakukan suami. Tambah anak dari beberapa istri justru menambah angka pengeluaran wajib yang tidak sedikit.

Ada pula yang menikahi perempuan dari orang tua yang kaya raya. Ia tidak perlu bersusah payah membahagiakan istrinya, karena semua terpenuhi oleh mertuanya. Rumah, mobil bahkan susu anaknya sudah dijamin oleh mertuanya. Hanya saja setelah mertuanya meninggal, semua anak-anaknya menuntut pembagian warisan yang tak masuk akal. Hingga semua keluarga nya saling membenci.

Memahami Pola Rejeki
Memahami Pola Rejeki

Ada pula yang iri kepada sahabatnya. Bisa menyelesaikan kuliah, mendapat pekerjaan yang layak, kekasih yang cantik. Hingga suatu hari meminjam uang karena gajinya tak cukup untuk membeli semua keinginan kekasihnya. Belum cicilan barang-barang yang melilitnya karena gaya hidupnya.

وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا (٢٩)إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا (٣٠

  1. dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.
  2. Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS.al-Israa: 29-30 )

Menurut Ibnu `Abbas, al-Hasan, Qatadah, Ibnu juraij, Ibnu Zaid dan lain-lain, ayat ini melarang untuk bersikap kikir dan bakhil (pelit), juga jangan berlebihan dalam berinfak. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa maksud ayat ini adalah jika kamu kikir, niscaya kamu akan mendapat celaan dan hinaan dari orang-orang, tidak akan dihargai, serta mereka tidak akan memerlukanmu lagi. Dan jika kamu mengulurkan tanganmu atau berinfak, bersedekah di luar kemampuanmu maka kamu akan hidup tanpa sesuatu yang dapat kamu nikmati. Sehingga diumpamakan kamu menjadi seperti hasir, yaitu binatang yang sudah tidak mampu berjalan, yang berhenti, lemah dan tiada daya.

Hidup itu sawang sinawang, hidup yang terlihat indah belum tentu indah pula dalamnya. Hal yang dulu membuatmu menangis hingga berdarah-darah mungkin adalah hal yang kamu syukuri pada hari ini. Atau bisa juga segala hal yang kamu impikan untuk menjadi orang lain merupakan hal sia-sia karena kamu lebih baik menjadi diri sendiri. Karena kunci nikmat hidup adalah menikmati proses yang dijalani dengan bersyukur.

Ujian setiap orang pasti berbeda. Allah “mengambil” apapun itu dengan cara yang kadang tidak terduga. Seberapapun harta yang diikat akan ada jatah yang harus dilepaskan. Harta memang unik, semakin deras aliran keran diatasnya maka akan semakin kencang pula aliran kebawahnyakebawahnya. Pun sebaliknya.

Ketika kita menjadi perantara atas rejeki orang lain, kita sedang memantaskan diri untuk menerima lebih. Namun perlu diingat, harta yang kita keluarkan ada hak kita, hak istri, hak anak di dalamnya. Tidak serta merta dihabiskan untuk diberikan kepada orang lain yang disebut membutuhkan. Karena sedekah terbaik adalah kepada keluarga dekat terlebih dahulu. Cukupkan kebutuhan keluarga, maka ketika rejeki deras mengalir ada hak orang yang membutuhkan didalamnya.

Kesimpulannya ada 2 pola rejeki, yaitu:

  1. Jika kita tidak mengeluarkannya maka Allah yang akan mengatur pengeluaran dengan cara yang tidak diduga.
  2. Jika kita terlalu mengeluarkan harta hingga keluarga kita kekurangan, maka kita akan kesusahan dan menyesal.

Dan juga pandangan yang menyebutkan bahwa rejeki itu hanya materi (uang), itu merupakan pandangan yang keliru. Karena istri yang menaati suami, suami yang menghargai istri, anak yang sholeh/sholehah, ringan menerima kebenaran agama, kesehatan yang baik juga waktu yang dihabiskan dengan berguna adalah rejeki yang tidak bisa dibeli dengan materi.