Membaca Wirid Setelah Shalat Dengan Suara Keras, Adakah Dalilnya?

Shalat lima waktu merupakan tiang dari Agama. Bila umat Islam tak menjaga shalatnya maka diumpamakan seperti hendak merobohkan tiang agama, karena shalat termasuk sebagai pilar sendi-sendi syiar Islam. Dan hal yang menambah kesempurnaan setelah shalat adalah membaca wirid atau bacaan seperti Istighfar, tasbih, tahmid, tahlil baik yang dilakukan secara sirr (pelan) atau jahar (keras).

Sayangnya ada sebagian golongan kecil di masyarakat berani menyalahkan orang lain yang membaca wirid secara keras dengan alasan Nabi tak menjalankannya. Sungguh ini cara yang tak bijak dalam menyikapi urusan khilafiyah (ada perbedaan pendapat). Padahal mengeraskan suara wirid sudah ada semenjak Nabi. Hal ini sesuai penuturan dari Sahabat Ibnu Abbas yang dikutip oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya.

عن ابن عباس رضي الله عنهما: أن رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة، كان على عهد النبي صلى الله عليه وسلم» قال ابن عباس: «كنت أعلم إذا انصرفوا بذلك، إذا سمعته

Artinya:”Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya mengeraskan suara dzikir setelah shalat fardhu sudah ada semenjak zaman Nabi SAW. Ibnu Abbas berkata: Saya Mengetahui hal itu tatkala mereka selesai shalat, jadi saya mendengar bacaannya. (HR. Muslim).

Menurut Imam As-Subuki dalam al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra mengutip perkataan Imam Sya’rawi  bahwa Hadits diatas mengisyaratkan anjuran mengeraskan bacaan dzikir bagi para jama’ah. D

Hadits diatas dapat dipahami bahwa membaca wirid setelah shalat pada prinsipnya diperbolehkan menggunakan suara keras atau jahar terutama bagi imam untuk mengajari jamaahnya supaya terbiasa melakukan kebaikan, karena masyarakat awam bila tak diajari secara terus menerus maka ia akan lupa, tak mengamalkannya lagi.

Bagikan

moh afif sholeh

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *