Mengenal Istilah Rukhshah (Keringanan) dalam Islam - masholeh.com
0 views

Mengenal Istilah Rukhshah (Keringanan) dalam Islam

Salah satu ciri ajaran Islam adalah mudah diterima serta tak memberatkan bagi pemeluknya. Bila ada orang yang merasa berat saat melakukan sebuah ajaran berarti belum memahami secara benar akan dasar-dasar ajarannya bahkan Nabi melarang umatnya untuk tidak memberatkan diri secara berlebihan dalam mengamalkan Sunnahnya.

Ulama' yang terkecoh Jama'ahn

Islam menganjurkan kepada umatnya untuk selalu berdoa kepada Allah sebagai Tuhan, tempat mengeluh, mengadu akan permasalahan yang dihadapi baik urusan dunia maupun akhirat dengan memperhatikan syarat-syarat berdoa agar segera terkabulkan.

Salah satu ciri ajaran Islam adalah mudah diterima serta tak memberatkan bagi pemeluknya. Bila ada orang yang merasa berat saat melakukan sebuah ajaran berarti belum memahami secara benar akan dasar-dasar ajarannya bahkan Nabi melarang umatnya untuk tidak memberatkan diri secara berlebihan dalam mengamalkan Sunnahnya.

Dalam hal ini, Imam Nawawi dalam kitab Riayadhu Sholihin mengutip hadist Nabi,

عن ابن مسعود رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “هلك المتنطعون” قالها ثلاثا، رواه مسلم

Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabada: akan hancur orang-orang yang fanatik atau berlebihan tidak pada tempatnya. Nabi mengulangi tiga kali. (HR. Muslim).

Menurut Imam Ibnu Alan dalam Dalil Al-Falihin menjelaskan bahwa kata al-Muthanattiuan berarti orang yang berlebih-lebihan dalam segala hal baik dalam ucapan maupun perbuatan. Larangan ini bertujuan agar umat Islam selalu berpikir dan berperilaku sederhana tak fanatik dalam menyikapi apapun dengan tujuan agar tak menjadi golongan yang hancur sebab ulahnya sendiri.

Mengenal Istilah Rukhshah (Keringanan) dalam Islam
Mengenal Istilah Rukhshah (Keringanan) dalam Islam

Imam Suyuthi dalam kitab al-Asybah wa an-Nadhair menjelaskan tentang macam-macam keringanan (Rukhshah) dalam Islam.

Pertama, keringanan yang harus dilakukan seperti memakan bangkai saat kondisi terjepit sekira tidak dilakukan maka nyawa akan melayang. Begitu juga diperbolehkan berbuka puasa bagi orang yang sedang sakit parah serta tidak sedang bepergian.

Kedua. Keringanan dalam perkara yang Sunnah seperti mengqasar atau meringkas shalat bagi orang musafir yang jaraknya telah sesuai kriteria.

Ketiga. Keringanan yang bersifat mubah seperti akad salam (pesan-memesan).

Keempat. Keringanan dalam hal yang lebih utama ditinggalkan seperti berbuka puasa bagi orang yang tak ada hal yang memberatkan.

Kelima. Keringanan dalam hal yang makruh seperti mengqasar (meringkas) shalat bagi musafir yang jaraknya kurang dari tiga marhalah, kira-kira lebih dari 80 KM.

Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa ajaran Islam sangat meringankan umatnya serta melarang fanatik dalam mempraktekkan ajarannya. Hal ini sebagai rahmat bagi pemeluknya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *