Misi Para Nabi: Menegakkan Keadilan di segala lini kehidupan

Seorang filosof muslim yang bernama Ibnu Rusd pernah mengeluarkan pernyataan dalam karya beliau yang berjudul Fash Almaqal tentang tujuan dari Syariat Islam yaitu mengajarkan ilmu al Haq, dan mengamalkan yang haq.

Pengertian dari ilmu al Haq adalah makrifat kepada Allah SWT dengan mengetahui lebih dekat tentang-Nya, melalui penciptaan yang ada di jagad raya, serta memahami Sifat sifat-Nya supaya manusia mengetahui kewajiban yang harus ia kerjakan untuk mencapai keberuntungan yang abadi. Sedangkan Amal yang Haq adalah mengerjakan perbuatan yang sesuai perintahNya, maupun menjauhi larangan-Nya, ada 2 kategori:

 

Pertama, berupa amalan yang dilakukan anggota badan dan ilmu yang mempelajari hal ini disebut ilmu fikih.

 

Kedua, amalan yang dilakukan oleh hati manusia, misalnya tentang sabar, ikhlas dan lain sebagainya. Ilmu yang mempelajari tentang masalah ini disebut ilmu Tasawuf.

Dalam upaya penerapan Syari’at, Allah SWT mengirim seorang Nabi maupun Rasul dengan diperkuat oleh sebuah kitab suci untuk menuntun Umatnya dari kegelapan tentang Hakikat hidup di dunia, serta mengenalkan tentang konsep Tauhid yaitu percaya akan adanya satu Tuhan sebagai pedoman dalam mengarungi kehidupan. Dan inti dari Syariat Islam tidak lain adalah untuk menegakkan keadilan untuk dirinya sendiri, keluarga, masyarakat sekitar, serta tercapainya keadilan dalam berbangsa dan bernegara. Hal ini sesuai dengan Al Qur’an Surat Al Hadid ayat 25

(لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

Artinya: Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan kami turunkan bersama mereka kitab dan neracaj (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil.

 

Menurut Ibnu Asyur dalam Tafsirnya At Tahrir Wa At Tanwir menafsirkan kata القسط dengan pengertian keadilan dalam segala urusan. Dari sini bisa dipahami bahwa tujuan Allah mengutus para Utusannya serta menurunkan kitab suci tidak lain untuk menegakkan keadilan disemua lini kehidupan.

 

Sedangkan ajaran Syariat Islam ada yang bisa dicerna oleh akal fikiran manusia, seperti dalam masalah Muamalah atau berkaitan tentang hubungan dengan manusia, hal ini menyesuaikan situasi kondisi, atau ada maslahat di dalamnya.

Adapun dalam urusan ibadah semuanya dikembalikan ke Allah dan Rasulnya (تعبدي) yang menuntun tata cara ibadahnya.

 

Menurut Dr Arraisuni menyatakan bahwa segala ajaran syariat islam selalu membawa tujuan dan maslahat untuk manusia, baik urusan dunia maupun akhirat. Maka hendaknya manusia selalu menggali tujuan hidupnya kembali supaya selalu dalam koridor yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulnya.

Bagikan

moh afif sholeh

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *