amal kebaikan

Nabi Ibrahim Menjadi Khalilullah (Kesayangan Allah) Karena Tiga Hal Ini

Nabi Ibrahim dikenal sebagai bapaknya para Nabi dan ajarannya selalu menjadi rujukan penting, terutama dalam urusan ibadah dan lainnya. Disamping itu keikhlasannya dalam berjuang menyebarkan kebenaran selalu diikuti sampai s karang. Beliau juga dikenal sebagai Khalilullah (Kesayangan Allah). Hal ini sesuai dengan Surat An-Nisa:125 yang berbunyi:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا (125)

Artinya: Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa Ayat ini sebagai anjuran untuk mengikuti jejak Nabi Ibrahim sebagai seorang panutan dalam mendekatkan diri kepada Allah dengan mencapai derajat sebagai seorang yang disayang oleh-Nya. Hal disebabkan ketaatannya yang luar biasa. Abu al-Lais as-Samarkandi dalam Tanbih al-Ghafilin menjelaskan:

ﻭﺫﻛﺮ ﺃﻥ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ ﺧﻠﻴﻞ اﻟﺮﺣﻤﻦ ﺻﻠﻮاﺕ اﻟﻠﻪ ﻭﺳﻼﻣﻪ ﻋﻠﻴﻪ، ﻗﻴﻞ ﻟﻪ: ﺑﺄﻱ ﺷﻲء اﺗﺨﺬﻙ اﻟﻠﻪ ﺧﻠﻴﻼ؟ ﻗﺎﻝ: ﺑﺛﻼﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎء: ﺃﻭﻟﻬﺎ: ﻣﺎ ﺧﻴﺮﺕ ﺑﻴﻦ ﺃﻣﺮﻳﻦ ﺇﻻ اﺧﺘﺮﺕ اﻟﺬﻱ ﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮﻩ. ﻭاﻟﺜﺎﻧﻲ: ﻣﺎ اﻫﺘﻤﻤﺖ ﻓﻴﻤﺎ ﺗﻜﻔﻞ اﻟﻠﻪ ﻟﻲ ﻓﻲ ﺃﻣﺮ ﺭﺯﻗﻲ. ﻭاﻟﺜﺎﻟﺚ: ﻣﺎ ﺗﻐﺬﻳﺖ ﻭﻻ ﺗﻌﺸﻴﺖ ﺇﻻ ﻣﻊ اﻟﻀﻴﻒ.

Artinya: Nabi Ibrahim ditanya tentang dengan hal apa Nabi Ibrahim dipilih menjadi seorang yang disayang oleh Allah. Ia mennjawab:”dengan melakukan tiga hal ini. Pertama, aku tak pernah memilih dari dua hal kecuali hanya tertuju kepada Allah semata, bukan yang lain. Kedua, tak pernah merasakan sedih terhadap rizki yang telah ditanggung oleh Allah. Ketiga, Aku tak pernah sarapan, atau makan malam kecuali dengan tamu.

Dari sini dapat dipahami bahwa Nabi Ibrahim mengabdikan seluruh kehidupannya tertuju kepada Allah saja, bukan yang lain. Hal ini dapat dibuktikan saat beliau diperintahkan untuk mengorbankan puteranya yang bernama Ismail, beliau langsung melakukan perintah itu. Berkat ketaatan yang tinggi ini, beliau tak pernah merisaukan urusan keduniaan terutama urusan Rizki, bahkan sifat beliau sangat dermawan terhadap orang lain.

Ketiga hal diatas yang menjadikannya menjadi orang yang dekat dengan Tuhannya dan selalu diikuti oleh para Nabi setelahnya.

Gang Mujair, 28/12/2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *