Nasehat Abu Hatim kepada Para Politikus

Politik identik dengan taktik, juga penuh intrik, terutama menyusun strategi bagaimana caranya mengalahkan lawan agar tak berkutik. Dalam hal ini seorang ulama yang bernama Abu Hatim (w.353 H) dalam kitab Raudhat al-Uqala wa Nuzhat al-Fudhala’ memaparkan tentang kategori seorang politikus harus mengetahui tiga hal, yaitu:

Pertama, harus mempunyai kecerdasan akal. Ini bertujuan agar dalam menjalankan strategi nya tak dibohongi oleh kepentingan sesaat, baik kelompoknya atau orang yang ia akan pimpin.

Kedua, berilmu. Ini sebagai syarat mutlak seorang politikus harus mengetahui tentang seluk beluk tentang ilmu politik, agar strategi yang ia gunakan sesuai dengan baik, dan tercapai tujuan untuk memakmurkan masyarakat sehingga terwujud keadilan yang merata.

Ketiga, mampu berdialektik dengan baik, bila seorang politikus tak mampu berdialektik, maka terjadi kebuntuan dalam berfikir. jika hal ini terjadi, maka bisa dipastikan niat atau rencana baik akan kandas ditengah jalan karena kalah dalam berargumentasi.

Tak hanya itu, Abu Hatim juga memaparkan agar strategi para politikus berjalan dengan mulus, maka harus menjalankan 3 syarat ini, yaitu:

1. Tak gegabah dalam mengambil langkah atau keputusan, karena jika ia terburu-buru maka dipastikan hasil yang diharapkan tak sesuai keinginan, hal ini sesuai kaidah fikih yang berbunyi:

من تعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه

Artinya: Barangsiapa terburu-buru untuk suatu hal sebelum waktunya maka ia akan terhalang mendapatkannya.

2. Harus sabar dalam menjalankan tugas yang sudah dibebankan kepadanya, karena ini sebagai kunci keberhasilan dalam perpolitik.

3. Seorang politikus harus banyak mendengar aspirasi rakyatnya, ia harus mengetahui harapan mereka, bukan bersikap seperti para sales yang menawarkan dagangannya sehingga ia menjadi orang yang dicintai rakyatnya, karena suara rakyat ingin didengar dan dijalankan sehingga harapan mereka tercapai.

Gang Mujair 6, 27-09-2018

Bagikan

moh afif sholeh

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *