jaga lisan, cara memanggil

Nasehat KH Hasyim Asy’ari dalam menyikapi Perbedaan

Menjelang Pilpres yang semakin memanas diperlukan kehati-hatian dan kewaspadaan dalam bersikap sehingga tak menimbulkan perpecahan bahkan sampai menyakiti orang lain, hubungan baik menjadi retak terutama suami dengan istri juga dengan sanak familinya, Kyai dengan Santri, Guru dengan para muridnya, dosen dengan mahasiswa maupun mahasiswinya, atasan dengan bawahannya.

Dalam kitab at-Tibyan fi Nahyi an Muqata’at al-Ar’ham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan, KH Hasyim Asy’ari menjelaskan tentang hal yang menjadikan permusuhan yang menimbulkan perpecahan disebabkan perbedaan cara menyikapi sebuah masalah yang berawal dari arogansi diri yang telah dikuasai oleh nafsu atau dari bisikan syaitan, semua golongan merasa benar, paling pintar dan menyalahkan golongan lain.

Dalam kitab tersebut, beliau juga memberikan contoh tentang kisah Imam As-Syafi’I ketika berziarah ke Makam Imam Hanafi selama tujuh hari dengan menghabiskan waktu untuk membaca Al-Qur’an, kemudian menghadiahkan pahala bacaannya kepada Imam Hanafi. Dan selama Imam Syafi’I berada disekitar area kubbah Imam Hanafi, setiap shalat Shubuh ia tak membaca Qunut. Setelah ia pulang dari sana, salah satu murid Imam Syafi’I bertanya kepadanya:

“Kenapa anda tak membaca Qunut selama di area kubbah Imam Hanafi?”

Lantas Imam Syafi’I menjawab: “alasannya adalah bahwa Imam Hanafi tak menganjurkan membaca Qunut dalam Shalat Shubuh, maka aku tak melakukannya sebagai bentuk penghormatan atau sopan santun terhadap Imam Hanafi.”

Dari sini KH Hasyim Asy’ari menganjurkan kepad Umat Islam dan para Ulama yang bertakwa untuk selalu mengikuti sikap para Sahabat dalam menyikapi perbedaan pendapat, juga mengikuti para Ulama’ yang telah mengamalkan ilmunya dan orang-orang shaleh dalam merespon segala macam perbedaan.

Kisah diatas kiranya dijadikan pembelajaran bahwa perbedaan urusan furu’iyyah (cabang-cabang agama) atau urusan pilihan Presiden, Caleg tak menjadikan seseorang menjadi angkuh, merasa paling baik, tapi lebih mengedepankan saling mengahargai perbedaan, dan menyikapi dengan sikap yang dewasa dalam berfikir dan bertindak sehingga tak menyakiti orang lain.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *