Pengertian Amanat dan Pembagiannya

Al Quran kitab suci sebagai pedoman bagi umat manusia supaya menjadi hamba Allah yang baik dan mampu memegang amanah yang diembannya. Salah satu sifat wajib yang harus dimiliki oleh rasul adalah sifat amanah atau dapat dipercaya baik ucapan maupun perbuatan.

Pada dasarnya, manusia mudah membuat janji kepada siapapun tapi sulit untuk menepatinya. Begitu juga mudah menerima amanat tapi sering berkhiyanat. Sebetulnya apa sih hakikat amanat?

Imam As Shabuni dalam tafsirnya yang berjudul Shafwat At Tafasir mengutip penjelasan Ibnu Al Jizzi tentang Amanat yaitu segala kewajiban yang harus dilakukan baik dalam rangka menjalankan ketaatan maupun menjauhi larangan.

3 Kategori Amanat

Syeh Muhammad Al Amin bin Abdillah Al Harari dalam Tafsir Hadaiq Ar Rauhi wa Raihani membagi amanat menjadi 3 bagian.

Pengertian Amanat dan Pembagiannya
Pengertian Amanat dan Pembagiannya

Pertama, amanah yang harus ditunaikan oleh seorang hamba kepada Tuhannya seperti menggunakan sebaik-baiknya anggota badan untuk melakukan ketaatan kepadanya serta menjauhi segala larangannya.

Kedua, amanah yang berkaitan dengan orang lain seperti memberikan barang titipan dengan baik, menjaga rahasia masing-masing antara pasangan suami istri.

Ketiga, amanah yang berkaitan dengan diri sendiri seperti memilih dan memilah sesuatu bermanfaat bagi dirinya dalam urusan duniawi dan ukhrawi.

Ada beberapa ayat yang berisi tentang kata amanat baik dengan bentuk mufrad (tunggal) atau dengan bentuk plural (jama’) dan memiliki arti penggunaan yang berbeda-beda.

Diantara Kata amanat yang berbentuk jamak tertuang dalam surat Al Mukminun ayat 8 yang berbunyi:

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8

Artinya: Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

Imam Al Baidhawi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa salah satu tanda orang mukmin sejati yaitu mau menjaga amanat yang berkaitan dengan Allah dan umat manusia.

Pada ayat tersebut, kata amanat menggunakan bentuk jamak menunjukkan bahwa amanah memiliki bentuk dan macam yang berbeda tidak hanya yang berkaitan dengan urusan harta semata namun berkaitan dengan urusan ibadah yang dilakukan oleh manusia.

Ada juga kata Amanat yang berbentuk mufrad (tunggal) seperti dalam Surat Al Ahzab ayat 72 yang berbunyi:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.

Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa setiap manusia diberikan amanat terkait urusan agama. Bagi orang yang beriman akan selalu mandi besar (jinabat) dalam kondisi sendirian maupun sedang beraktivitas dengan orang lain. Sedangkan orang Munafik tak mandi besar saat sedang sendirian.

Dari sini, amanat yang diberikan harus dijalankan semaksimal mungkin dengan kemampuan yang dimiliki supaya menjadi manusia yang berarti.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)