Petuah Orang Tua tentang Gerhana

“Bila kita mau membuka pikiran tentang fenomena alam, kita akan menemukan hakikat keagungan Tuhan, serta lebih mengenal betapa kekurangan dalam diri ini,” tutur Mbah Joyo kepada cucunya.

“Mbah, yang memberi nama aku siapa sih?kok namanya “Selamat Gerhana”?” Ia bertanya sambil garuk-garuk  kepala.

“Yang memberi nama itu, iya mbahmu ini, karena ayahmu sudah meninggal sejak kamu masih dikandungan. Sewaktu kamu lahir, bertepatan ada gerhana matahari total. Saat itu, masyarakat dihebohkan dengan adanya letusan gunung Utara, makanya Mbah berharap kamu selamat dari musibah itu.

“Terus di kampung kok banyak salah kaparahnya ya mbah, misalnya orang hamil harus masuk ke dalam rumah selama masih gerhana, alasannya apa ya Mbah?”ia semakin ingin tahu.

“Sebetulnya masyarakat kurang memahami ajaran orang tua dulu, bila ada gerhana, orang hamil dianjurkan di dalam rumah untuk berdoa terlebih dahulu, karena para lelaki sholat gerhana di Masjid, atau di Musholla, sehingga para wanita lebih aman di dalam rumah,” tutur si Mbah.

“Walah begitu ya Mbah. Jadi, fenomena alam ini sebagai tanda kebesaran Sang Pencipta yang maha sempurna, tidak perlu di takuti, tapi dicermati saja ya Mbah,” Ia menyimpulkan perkataan mbahny.

“Iya betul, Sekarang kamu sudah pintar ya,”Puji sang Mbah kepada cucunya.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *