Rendah Hati atau Rendah Diri?

Sariman salah satu alumni Pesantren terkenal di Jawa Timur, ketika lulus dari sana, ia merasa masih banyak kekurangan dalam dirinya, sehingga waktu masyarakat memintanya untuk mengajari ibu ibu pengajian, ia menolaknya dengan halus, dengan mengatakan:

“Maaf bu, saya belum pantas mengajari warga sini, ada banyak yang lebih alim dari saya”.

“Tidak Nak, kami melihat kamu sudah pantas mengajari Warga yang membutuhkan ilmu Agama.”tutur Ibu Rini, ketua Majlis Pengajian.

Sariman merasa belum siap, karena di Pesantren ia termasuk anak yang suka main bola dari pada mengaji, walaupun demikian, ia cukup mampu membaca kitab gundul atau tanpa ada harakatnya.

Masyarakat lebih memilihnya karena ia lulusan Pesantren, dibanding anaknya Kyai daerah itu, yang lebih belajar ilmu umum sehingga tak mampu meneruskan Bapaknya.

Sariman merasa dilema antara mau menerima tawaran atau menolaknya. Terkait desakan masyarakat tadi, ia meminta waktu untuk berfikir terlebih dahulu supaya jawabannya memuaskan.

“Bu, saya akan memberi jawaban setelah 3 hari untuk berfikir dahulu, agar hati ini menjadi yakin dan siap.” Tuturnya.

“Iya, silakan, kami akan tunggu jawabannya.

Setelah merenung, mengkaca diri, Ia teringat perkataan Kyainya dulu yang mengatakan:

“Bila kamu diminta masyarakat untuk mengajarkan ilmu, ajari saja, yang penting niat kamu untuk belajar, bukan untuk mengajar, karena orang yang belajar, bila terjadi kesalahan akan dimaklumi, dan tak ada Kyai atau Ustad yang sempurna, semuanya melalui proses belajar, namun kamu harus ingat!rendah hati baik karena itu sifat terpuji, beda dengan rendah diri, merupakan sifat kurang terpuji, karena kurang yakin akan kemampuan dirinya, sehingga potensi dalam diri tak bisa maksimal penggunaannya”.

Setelah itu, ia yakin pada dirinya bahwa tak ada gading yang tak retak, semua butuh proses yang harus dijalankan, lalu Sariman mengiyakan permintaan masyarakat untuk mengajar pengajian Ibu ibu. Dan respon masyarakat juga positif terhadapnya, sehingga ia sering disuruh ceramah dimana mana yang mengharumkan namanya berkat kegigihan dalam berproses, serta menggunakan potensi diri secara maksimal.

oleh: Moh Afif Sholeh

Bagikan

moh afif sholeh

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *