Saat Ulama’ Berbuat Kesalahan, Bagaimana Menyikapinya

Tak ada manusia yang sempurna, semuanya pernah melakukan kesalahan atau berbuat dosa kecuali orang yang dilindungi oleh Allah. Dan sebaik-baiknya orang yang pernah melakukan kesalahan adalah mau memperbaiki diri serta tidak mengulanginya lagi. Kesalahan dijadikan bahan evaluasi agar menjadi lebih baik di masa depannya.

Saat tokoh agama baik kyai, ustadz melakukan kesalahan atau langkahnya kurang sesuai dengan aturan maka sebaiknya segera memperbaikinya karena akan fitnah dibelakangnya. Hal ini sesuai nasehat imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar,

اعلم أنه يستحب للعالم والمعلم والقاضى والمفتى والشيخ المربى وغيرهم ممن يقتدى به ويؤخذ عنه أن يجتنب الأفعال والأقوال والتصرفات التى ظاهرها خلاف الصواب وإن كان محقا فيها، لأنه إذا فعل ذلك ترتب عليه مفاسد

Ketahuilah, dianjurkan kepada orang alim, guru, hakim, mufti, guru spiritual maupun yang lain terutama orang yang banyak pengikutnya atau jamaahnya untuk menjauhi perkataan, perbuatan, kebijakan yang dhahirnya bertentangan dengan aturan walaupun itu benar. Bila hal demikian masih dilakukan maka akan terjadi fitnah setelahnya.

Baca juga: http://masholeh.com/agar-menjadi-seorang-ulama-ini-resepnya/

Penjelasan ini didukung Fatawa Dar Ifta’Al-Misriyyah yang menjelaskan bahwa bila seorang ustadz, kiyai, Ulama’ melakukan kesalahan dalam ucapan atau langkahnya maka santri atau orang terdekatnya mengingatnya dengan cara yang sopan dan tidak cepat negatif thinking atau prasangka buruk terlebih dahulu.

Baca juga: http://masholeh.com/izzuddin-bin-abdussalam-ulama-yang-mulai-belajar-di-usia-senja/

Dari sini, pentingnya dokumentasi agar setiap ucapan dan perbuatan bisa dievaluasi secepatnya agar masyarakat tak menjadi bingung. Dan hal ini sebagai refleksi diri agar menjadi lebih baik.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *