Sambel Kecap Ibuk

Oleh: Siti Rohimah S_R

Arfi mengucek matanya agar ia dapat membuka mata yang masih agak segan untuk melihat cahaya pagi. Ya ibunya membangunkan Arfi untuk sholat subuh. Entah jam berapa Arfi tidak tahu. Tapi ibunya selalu tau waktu sholat dari azan yang berkumandang.  Satu-satunya jam adalah jam tetangga yang bisa dilihat dari luar ketika tetangganya sudah membuka pintu. Dan pagi itu seperti biasa, tetangganya belum membuka pintu rumahnya. Mungkin sedang sibuk dengan rutinitas pagi yang ah entahlah tidak ada kata yang mampu menggambarkan sepertinya. Atau mungkin masih berasyik masyuk dengan mimpi indahnya.

Arfi tinggal bersama ibunya di sebuah tempat sederhana dengan bilik bambu yang kemudian mereka sebut sebagai rumah. Satu-satunya tempat mereka untuk melepas lelah dan sekedar merebah. Karena jika dikatakan untuk berlindung dari panas dan hujan juga tidak memungkinkan. Mereka masih kepanasan saat musim panas dan masih kedinginan saat musim hujan.


“Ah ibuk aku masih ngantuk nih”, ucap Arfi setengah kesal.

“Tapi kamu belum sholat shubuh tho? Daritadi ibuk bangunin lho”. Ibunya sejenak berhenti mengaji untuk mengambil nafas panjang. Sudah menjadi rutinitas selesai sholat ibunya pasti mengaji Al-Qur’an. Ibunya pandai mengaji. Tak tanggung-tanggung ibunya akan menyelesaikan 1 juz setelah 1 sholat fardhu. Ibunya Istiqomah seperti itu sejak ayah Arfi meninggal dunia 2 tahun yang lalu.

“Mmmhh iya iya ini aku sholat”, sambil beranjak malas ia menuju pancuran untuk wudhu.

Setelah selesai sholat, Arfi melihat ibunya masih bermesraan dengan Al-Qur’an ditangannya. Ia masih dengan malas menuju meja kayu di dekat tungku, tempat biasa ibunya meletakkan nasi serta lauknya. Arfi sering kecewa setelah melihat meja tersebut. Karena ia tak pernah melihat makanan yang ia inginkan berada di meja itu. Seperti biasa, penghuni meja itu hanya nasi, kadang ditemani tempe goreng, tahu, atau hanya kecap manis yang diberi potongan cabai atau mereka sebut sambal kecap. Itupun didapat dari jatah tukang sayur tempat ibuk membantu bersih-bersih. Kalaupun ada makanan mewah seperti ayam, daging atau sejenisnya itu didapat dari pengajian sekitar rumah yang kebetulan tergolong keluarga mampu.

Alhamdulillah Arfi masih tetap sekolah, meski ia tak punya sepatu atau tas yang bagus. Ia mendapat bantuan dari RT setempat tiap tahunnya berupa alat tulis, untuk sekolah juga dibebaskan dari biaya tiap bulannya karena ia yatim. Ibunya juga seharusnya mendapatkan bantuan karena janda. Tapi ibunya tak pernah mau menerima. Bagi ibunya, bantuan untuk sekolah Arfi sudah lebih dari cukup.


Pagi itu Arfi hanya melihat nasi dan sambel kecap. “Ah tukan ketebak. Pasti ini”, ia menggeloyor pergi ke bilik kamar mandi untuk mandi. Ia sudah tak semangat untuk sarapan.

Selesai mandi dan berpakaian Arfi pamit ingin berangkat sekolah. Tapi ibunya menahannya, “arfii… Sarapan dulu nak. Biar kamu kuat. Konsen juga belajar nya. Sarapan itu penting lho nak”.

“Kalo mau aku kuat sama semangat belajar sarapannya tu roti pake selai gitu. Ini mah sambel kecap lagi. Sambel kecap mulu. Bosen buk”.

Ibunya terdiam.

Arfi pun tetap melenggang pergi ke sekolah tanpa sarapan.


“Sayang… Ayo bangun kita sholat subuh dulu”, terdengar suara lembut sayup-sayup.

Arfi kaget dan terbangun.

“Astagfirullahal’adziim… Ternyata tadi aku mimpi. Iya sayang. Aku udah bangun”, jawab Arfi.

“Iya ayo sholat jama’ah, aku tunggu di mushola ya sama anak-anak”. Itu suara Arini, istri Arfi.

Arfi sudah siap memimpin sholat subuh. Dibelakangnya juga siap 2 anak laki-laki nya kemudian diikuti istri dan 1 anak perempuan nya. Selesai sholat seperti biasa Arfi juga akan memimpin mengaji Al-Qur’an bersama anak-anak nya. Istrinya akan memasak di dapur, menyiapkan sarapan untuk keluarga nya. Istrinya ikut mengaji jika hari itu adalah hari libur. Arfi selalu memberikan istrinya hari libur juga ketika ia dan anak-anak sedang libur. Libur dari segala pekerjaan rumah. Mereka akan memesan beberapa makanan. Jika ada pakaian kotor menumpuk pun, Arfi akan menyuruh istrinya untuk membawa ke laundry. Tak perlu mencuci. Tak perlu berkutat dengan segala pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya. Untuk bersih-bersih seperti menyapu dan mengepel akan dibagi tugas kepada anak-anaknya. Jadi tiap selesai sholat istrinya akan ikut mengaji bersama Arfi dan anak-anaknya.

Karena hari itu hari Rabu, istrinya tidak ikut mengaji. Tapi sebelum istrinya beranjak ke dapur, Arfi meminta sesuatu kepada istrinya.

“Sayang…. Nanti tolong buatkan sambel kecap ya”, pinta Arfi.

Istrinya tersenyum dan mengangguk, lalu menuju ke dapur.


Setelah selesai mengaji, Arfi dan anak-anaknya bersiap untuk melakukan kegiatannya masing-masing. Setelah siap, mereka berkumpul di meja makan. Sarapan.

Arfi mencari sambel kecap pesanannya. Di meja tersedia sarapan lengkap. Ada roti dengan selainya. Nasi goreng juga tersedia. Dan untuk teman sambel kecapnya, istrinya menyiapkan daging panggang yang dipotong dadu. Sangat lengkap.

“Terimakasih ya sayang… Pagi tadi ayah mimpi. Ayah masih menjadi anak kecil dan masih ada nenek kalian. Nenek kalian menyuruh ayah sarapan dengan sambel kecap seperti ini hahahaha”, cerita Arfi kepada anak-anaknya.

“Trus sekarang ayah kangen ya sama masakan nenek?”, Tanya anak perempuan nya.

“Iya tapi waktu itu ayah gamau makan pake sambel kecap ini. Ayah waktu itu terlalu sombong. Padahal ini enak banget kan ya?”, Ungkap Arfi.

“Ayah menyesal dan ayah berharap kalian tidak seperti ayah. Karena itu sangat tidak baik. Ayah benar-benar menyesal sekarang. Semoga nenek kakek kalian mendapat tempat terindah di sisi Allah ya nak”, jelas Arfi.

Mereka sarapan dengan penuh kehangatan dan keceriaan.

Arfi pun terlarut dalam kebahagiaan itu. Dan terlintas lagi perasaan menyesal ia pernah bicara kasar terhadap ibunya. Sekarang ibunya telah menyusul ayahnya kehadirat Tuhan. 2 tahun setelah ayahnya meninggal dan saat ia menolak makan dengan sambel kecap itu ternyata adalah masa-masa terakhir ia bertemu ibunya. Pulang dari sekolah saat itu, ibunya sedang tertidur di atas sajadah sambil memeluk Al-Qur’an. Tertidur untuk selamanya. Sejak saat itu, Arfi berjuang sendiri untuk sekolahnya, untuk masa depannya. Hingga saat ini ia masih tidak menyangka dengan segala pencapaian nya.

Syukur tak terhingga kepada Allah yang telah mengampuni segala dosanya dan memudahkan segala urusannya. Arfi kini memiliki keluarga bahagia, pekerjaan yang mapan, tempat tinggal yang layak, bahkan memiliki beberapa usaha kecil-kecilan untuk masa tuanya.

Meski kadang ia rindu dengan orang tuanya, ia rindu dengan sambel kecap buatan ibunya. Dan ia menyesal saat itu ia menolak makan dengan sambel kecap buatan ibunya untuk terakhir kali.


Semoga Allah mengampuni kesalahan kita semua. Amin

 

Bagikan

Siti Rohimah _sr

Seorang yang tertarik di bidang sastra dan literasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *