doa, amalan
Cerpen

Santri Kepepet (bagian 1) saat Memimpin Doa

Santri merupakan orang-orang yang sedang belajar untuk mendalami ilmu-ilmu agama baik di pesantren maupun di sekolah yang berbasis agama seperti Madrasah Diniyah, Madrasah Tsanawiyah (MTS), Madrasah Aliyah (MA) seperti tauhid, fikih, tasawuf, ilmu alat seperti Nahwu, Sharaf, balaghah, dan ilmu lainnya. Mereka dikader oleh Kyai maupun ustadz agar kelak menjadi orang yang siap memimpin, membina, mengabdi di masyarakat.

Ada banyak kisah-kisah unik seputar kehidupan santri yang ada di pesantren ataupun yang sudah menjadi tokoh masyarakat. Salah satunya kisah santri yang bernama Alim bin Allamah yang mempunyai kebiasaan sering tidur saat teman-teman sedang mengaji.

baca juga: Pemikiran Tasawuf KH. Hasyim Asy’ari (Bagian 1)

Walau demikian, dirinya termasuk santri yang hebat, hafalan tentang kitab alat tak diragukan lagi mulai kitab jurumiyyah, Umrithi, Alfiyah sudah dilahapnya. Begitu juga ilmu Sharaf yang terkenal tasrif ( perubah bentuk kalimat)nya seperti Fa’ala Yaf’ulu Fa’lan wa Maf’alan Fahuwa Fa’ilun dan seterusnya.

Setelah ia boyong (istilah santri yang sudah tamat atau izin tidak mondok lagi), masyarakat sekitarnya menganggap dirinya orang yang sudah alim, mumpuni dalam urusan keagamaan maupun yang dibutuhkan masyarakat seperti menjadi imam shalat, memimpin tahlil dan doa.

Suatu ketika tetangganya mengadakan acara pengajian besar-besaran, si alim diundang untuk mengikuti acara ini. Tanpa disangka sebelumnya, saat pembawa acara memanggil dirinya untuk memimpin doa. Sontak dirinya kaget, mukanya pucat, panas dingin, keringat mengucur ke dahinya, lidah terasa kaku. Di dalam benak pikirannya tersirat:

“Aku kan gak hafal doa apapun, terus yang aku baca apa dong, aku malu, harga diriku ditaruh mana kalau saya gak bisa,”

Akhirnya,si Alim meyakinkan dirinya untuk siap memimpin doa di acara tersebut dengan modal hafalan yang masih bercokol di kepalanya.

Baca juga: Teori-teori politik ala kitab Alfiyah Ibnu Malik

Ia memulai doa dengan membaca basmalah, hamdalah dan sholawat lantas membaca hafalannya Fa’ala Yaf’ulu Fa’lan wa Maf’alan Fahuwa Fa’ilun wa dzaka Maf’ulun Liyaf’ul Uf’ul La Taf’ul Maf’alun Maf’alun Mif’alun. Kemudian ia menutup doanya dengan ucapan Qabul…Qabul…Qabul…Hajatnya.

Masyarakat yang mendengarnya sangat terkesima dengan pembawaannya yang meyakinkan dan khusyuk dalam mengamininya walau mereka tak tahu arti apa yang dibaca sama si Alim.

Setelah Acara ini selesai, salah satu warga menghampiri dirinya lantas meminta untuk memimpin acara selamatan pada malam berikutnya.

baca juga: Ulama’ yang Terkecoh Jama’ahnya: Kisah Inspiratif dari Al Qur’an

Si Alim hanya terdiam sejenak, doa saja aku tidak hafal, yang aku baca tadi saja tasrifan ilmu Sharaf tapi kenapa masyarakat sangat percaya sama diriku?

bisa juga dibaca di wattpad: Santri Kepepet (bagian 1) saat Memimpin Doa

Bagikan

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *