untung di dunia

Santri Kepepet (vol.4) Mendadak Dapat Surprise

Di sebuah kampung Rawa Duren, ada seorang ustad yang bernama Alim. Tapi, namanya terkenal dan tenar di luar daerahnya dengan panggilan ustadz Budiman.

Di tempat tinggalnya ia berbaur dengan masyarakat secara harmonis, serta dirinya tak memperlihatkan kealimannya. Ia lebih suka menjadi seperti air, mengayomi warga tanpa membuka identitas dirinya.

Suatu hari, salah satu jamaahnya yang bernama Paijo hendak berkunjung ke rumah ustadz tersebut, ia berusaha mencari alamat dengan bertanya kepada warga. Sayangnya, warga tak ada yang mengenalnya ustadz yang ia cari dikarenakan ketidaktahuan mereka bahwa di daerah itu ada seorang ustadz yang namanya harum di luar sana.

“Pak, tahu alamat rumahnya Ustadz Budiman tidak?”salah satu jamaah bertanya kepada warga kampung. 

baca juga: Santri Kepepet (vol.3) Mendadak Tenar

“Wah, di sini tak ada namanya ustadz Budiman, di daerah ini hanya ada Ustadz Alim, tapi ia tak sesuai dengan ciri-ciri yang anda maksud,” jelas salah satu warga. 

Kemudian tadi mencari dari ujung ke ujung kampung, namun tak menemui ustadz tadi. Ia mencoba menghubungi nomor kontak Ustadznya, tapi tak tersambung karena sulitnya mendapatkan signal Hp. Akhirnya Paijo memutuskan untuk pulang lagi.

Seminggu kemudian, Paijo kembali lagi ke kampung itu guna mencari alamat sang ustadz dengan harapan bisa bertemu orang yang ia cari dari minggu kemarin.

“Bu, ada yang tau alamatnya Ustadz Alim? beliau sering mengajar pengajian di tempat kami, ciri-cirinya yaitu perawakannya tidak terlalu tinggi, kulitnya sawo matang,” Paijo bertanya kepada salah satu perempuan tua yang sedang menyapu halaman rumahnya.

baca juga: Santri Kepepet (vol.2) Kepergok Bu Nyai dalam Mimpi

“Setahu ibu, di sini tak ada nama ustadz Budiman, tapi ada Ustadz Alim, memangnya ada kepentingan yang sangat pentingkah?”

“Iya Bu, saya mendapat amanah dari orang tua saya, sebelum beliau meninggal dunia untuk menyampaikan pesan untuk Ustadz Budiman, bahwa beliau Nadzar hendak membiayai perjalan Umrah untuk Ustadz yang mengajar di kampung kami”. Tuturnya.

Sang ibu itu kembali bertanya lagi kepada Paiji tentang ustadz itu.

” Nak, apa ustadz itu seperti ini orangnya?”sambil menyodorkan sebuah foto yang ia ambil dari dalam rumah.

“Iya betul, Bu. Ini ustadz Budiman,”

“Walah, ini kan suami saya, disini panggilannya ustadz Alim. Silakan masuk ke rumah dulu, saya akan memanggil ustadz dulu,”

 “Pak…pak…, ada tamu dari kota ni, ia dari minggu kemarin mencari bapak,” jelas istri ustadz.

“Memangnya siapa, Bu?”

“Salah satu jamaah bapak, ia datang membawa kabar gembira untuk bapak,”

“Kabar apa sih, bu?”tanya sang suami.

“Ih, bapak kepo banget sih, pulang saja dulu, ntar juga tahu sendiri,”

Sesampainya di rumah, sang ustadz kaget melihat santrinya sampai rumah.

“Nak, apa kabarnya?” tanya sang Ustadz.

“Alhamdulillah, baik Ustadz, saya kesini hendak menyampaikan amanah untuk Ustadz,”

“Amanah apa, nak?”

“Sebelum orang tua saya meninggal, beliau bernadzar hendak menanggung semua biaya perjalanan umrah untuk Ustadz”.

“Masya Allah, semoga amal orang tuamu diterima oleh Allah, dan segala dosanya diampuni-Nya, Saya sangat terharu sama Almarhum, orang yang baik akhlaknya,”

“Amin, mudah-mudahan terkabul doanya Ustadz,”

Setelah sang tamu pulang dari rumah sang ustadz, lantas istri ustadz bertanya:

“Pak, kamu kok tidak pernah cerita tentang nama lain dari Alim yaitu Budiman sih?”

“Wah ceritanya panjang Bu, itu panggilan dari kiai saya dulu. Saya sering mencuri ikan kyai di empang dulu karena sering lapar karena telat kiriman. Setelah ketahuan, Kyai memanggil saya dengan panggilan Budiaman dengan harapan menjadi orang baik,” tuturnya.

“Alah, ternyata bapak saat di pesantren begitu tingkahnya ya, ibu jadi tahu, he he,” canda istri ustadz.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *