ilmu

Santri Kepepet (vol.6) Meramal Masa Depan

Di akhir musim penghujan, Alim sebagai seorang ustadz juga kadang sebagai supir buah-buahan rela mengorbankan waktunya, meninggalkan keluarga berhari hari, untuk mengantarkan sayuran ke kota yang membutuhkan waktu beberapa hari. Suatu ketika, ia bertemu dengan sahabat karibnya yang bernama Tarmin di sebuah warung kopi, tadinya ia tidak mengenali sahabatnya karena sudah puluhan tahun sudah tidak bertemu.


“Kopi hitam mas, airnya sedikit saja”.ia bilang ke penjual warung kopi.

“Iya bang, tunggu sebentar ya, tadi ada mas itu yang duduk di depan pesan duluan,” tuturnya sambil senyum.

Lalu Alim ikut duduk bersama orang itu seraya bertanya kepadanya:

“Ngopi mas”

“Iya bang, terima kasih,” jawab Tarmin dengan santun.

baca juga: Santri Kepepet (vol.5) Saat cinta ditolak, Wiridan tambah banyak

“Ngomong-ngomong, mau kemana mas?”.Alim bertanya.

“Mau ke desa Mekar Jaya. Abang tahu?”.

“Iya tahu, itu kan tempat saya tinggal, emang mau cari siapa?”.

“Saya mau bertemu sahabat akrab saya, namanya Alim, dulu satu pesantren di daerah Jarang Pulang, kecamatan Janda Kembang,” jelasnya

Sontak Alim keheranan, dan bertanya diri sendiri: “jangan jangan saya yang dimaksud”.ia bergumam.

Setelah ngobrol lama, ternyata betul si Tarmin itu sahabatnya Alim. Mereka langsung berpelukan. Lalu Alim bertanya kepadanya:

baca juga: Santri Kepepet (vol.4) Mendadak Dapat Surprise

 “Sebetulnya kamu jauh jauh kesini ada keperluan apa?”ia sambil melihat wajahnya dengan serius.

“Usahaku sekarang sukses, berkat nasehatmu, dulu kamu pernah mengatakan: “nasib orang tak ada yang tahu, terutama nilai bagus di sekolah, tak menjamin kesuksesan seseorang, yang pada saat itu saya paling tertinggal di kelas, berkat usaha yang gigih dan serius serta terbuka dengan siapapun, memudahkanku memperoleh jaringan yang lebih luas,”tuturnya sambil berapi api.

“Walah, saya dulu bisa memberi nasehat kepadamu, tapi hasilnya, saya tak mampu menyamai kerja kerasmu, pada hal saya dulu orang yang selalu unggul dalam pelajaran, dan selalu dibanggakan oleh para guru, memang nasibmu mujur,” sambil mengingat masa di pesantren dulu.

baca juga: Santri Kepepet (vol.3) Mendadak Tenar

“Iya, yang penting kita motivasi anak anak kita agar pintar dalam akademik, dan mampu membaca tantangan global, agar tak ketinggalan zaman serta masih menjunjung akhlak yang baik kepada siapapun,”

Akhirnya Alim dan Tarmin berharap hubungan mereka bisa dilanjutkan oleh anak anaknya agar persahabatan nya tetap terjalin.

bisa dibaca di: wattpad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *