Masholeh.com

Sekedar Retorika Belaka

Pasar malam menjamur dimana-mana, begitu juga pedagangnya. Paino salah satu penjual jamu tradisional seringkali menjajakan dagangannya, kebetulan sedang sakit,  ia menyuruh temannya yang bernama Joki untuk menggantikannya,  padahal ia tak paham akan macam-macam jamu. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, ia berani berjualan. 

“Hayo,  dicoba… dicoba,  yang sakit jantung, bisa untung karena cepat sembuh,  yang sakit dada akan cepat reda,  yang sakit pinggang akan cepat hilang, “tuturnya sambil berapi-api.

Tukiyem salah satu calon pembeli bertanya:

“Mas, sampeyan sudah pernah mencoba jamunya sendirikah? “pertanyaan menusuk seperti halilintar yang sedang menyambarnya.

Joki hanya terdiam saja, sambil menjawab:”kalau sampeyan tak percaya ya cobain saja,  saya kasih gratis pokoknya. 

Tukiyem semakin penasaran, dan tertantang karena di kasih gratis untuk mencobanya, ia tergiur retorikanya joki. Setelah jamu dibuatkan untuk tukiyem,  ia langsung meminumnya. Di saat tukiyem minum jamu buatannya,  spontan keluar ucapan dari Joki:

“Saya tidak janji bisa sembuh, karena saya belum pernah mencobanya,” sambil menggaruk kepala. 

Sontak tukiyem menyemburkan jamu tadi ke muka Joki,  sambil berkata: ” kurang ajar sampeyan, telah menipuku,  kau buat aku kelinci percobaanmu, awas nanti kalau ada sesuatu,  saya akan lapor ke kepolisian. “ancamnya. 

Sesaat kemudian,  Joki segera merapikan jamunya,  karena khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan,  ia langsung pulang terburu-buru karena ketakutan. Ia menyesal karena tak paham jamu,  malah berani jualan.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *