Surat Al Fatihah memuat Isi pokok kandungan Al Qur’an

Al Qur’an Kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat beliau, dan sebagai petunjuk untuk menuju jalan kebenaran, merupakan anugerah yang luar biasa bagi Umatnya, membacanya dikategorikan termasuk ibadah, apalagi sampai dikaji, ditelaah, yang kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari merupakan bukti cinta kita kepada Allah dan RasulNya.

Baca juga:https://masholeh.com/2018/06/29/segera-tangani-empat-hal-ini-resikonya-begini/

Al Qur’an kitab suci yang penuh hikmah sebagai sumber pengetahuan, baik ilmu agama, maupun ilmu yang lain. Semua kandunganya tertuang dalam Surat Al Fatihah(pembuka), hal ini sesuai pernyataan Imam As Suyuti dalam kitab Asrar Tartib Al Qur’an, beliau menyatakan bahwa Allah SWT memulai kitabnya dengan Surat Al Fatihah karena di dalamnya tertuang tujuan pokok Al Qur’an(مقاصد القرأن). Beliau juga mengutip pendapat Imam At Toyyibi yang mengatakan bahwa, di dalam Surat Al Fatihah terdapat 4 macam ilmu tentang dasar pokok Agama, diantaranya:

Pertama, Ilmu Usuluddin (dasar Agama) atau lebih dikenal dengan Ilmu Tauhid, di dalamnya memuat tentang beberapa hal:

a. Makrifat kepada Allah, hal ini tertuang pada ayat

(الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ)

Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Ayat ini memberi gambaran bahwa hakikat segala macam pujian kebaikan hanya milik Allah semata, yang terbagi menjadi 4 macam:

1. Allah memuji kepada dirinya sendiri( حمد قديم لقديم) seperti dalam Al Qur’an Surat Surat Al An’am 1 yang berbunyi:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ۖ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan terang, namun demikian orang-orang kafir masih mempersekutukan Tuhan mereka dengan sesuatu.

2. Allah memberi pujian kepada Makhluknya, seperti Allah memuji kepada Nabi Muhammad SAW, seperti tertuang dalam Surat Al Ahzab 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.

3. Makhluk memuji kepada Penciptanya (حمد حادث لقديم), misalnya manusia mendapatkan nikmat selamat dari sebuah kecelakaan, kemudian ia mengucapkan الحمد لله sebagai bukti kenikmatan yang telah diberikan kepadanya.

4. Makhluk memuji ke sesama (حمد حادث لحادث), misalnya: Ali memuji kehebatan temannya atas keberhasilannya dalam urusan bisnis.

Dengan demikian segala bentuk pujian kebaikan, baik yang manusia rasakan, serta semua kenikmatan, anugerah, pada hakikatnya adalah milik Allah SWT, manusia tak pantas untuk mengeklaim sedikit pun. Baca juga:https://masholeh.com/2018/07/03/islam-dan-kesalehan-sosial/

b. Menjelaskan tentang Kenabian, hal ini tertuang dalam ayat

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Artinya: (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya.

Ayat ini memberi gambaran bahwa orang yang telah diberikan nikmat, yaitu para Nabi, orang pilihanNya, serta kepada orang Shalih dan dan para Syuhada’.

c. Membahas urusan Akhirat, hal ini tertuang dalam ayat Surat Al-Fatihah 4

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Artinya: Pemilik hari pembalasan.

Ayat ini menjelaskan tentang adanya hari pembalasan semua amal makhluknya.

Kedua, Ilmu Furu atau lebih dikenal ilmu fikih yang membahas tentang ibadah dan muamalah seperti: jual beli, pinjam meminjam, dan lainnya. Hal ini termuat dalam ayat

إِيَّاكَ نَعْبُدُ

Artinya: hanya Engkaulah yang Kami sembah.

Ketiga, Ilmu Akhlak, atau lebih spesifik disebut ilmu tasawuf, hal ini tertuang pada ayat

وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya: dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.

Keempat, ilmu Sejarah atau kisah orang terdahulu, termasuk orang yang mulia seperti para Nabi, dan juga orang yang durhaka, hal ini tertuang pada ayat

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Artinya: (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Ayat ini menjelaskan kisah orang orang yang diridhoi Allah yaitu para hambanya yang taat, seperti para Nabi, begitu juga dibahas tentang orang yang sesat dan dimurkai oleh Allah, yaitu golongan yang telah menyimpang dari ajaran para Nabinya, yaitu orang Yahudi, dan Nasrani, hal seperti di paparkan oleh Syeh Nawawi dalam tafsir Munirnya. Baca juga:https://masholeh.com/2018/07/05/misi-islam-mengajarkan-kebaikan/

Bagikan

moh afif sholeh

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *