Setiap manusia memiliki akal dengan kecerdasan yang luar biasa dengan makhluk yang lain. Ini  bertujuan agar mampu merespon, mengarahkan dirinya untuk memilih sesuatu yang menjadi pilihan hidupnya terutama dalam menghargai perbedaan pemahaman, bahkan perbedaan keyakinan.

Yang harus dikedepankan adalah rasa saling menghargai satu dengan yang lainnya. Umat islam dilarang mencela Agama yang lain. Begitu juga sebaliknya Agama lain tak boleh mencampuri urusan Umat Islam. Di dalam Surat al-An’am: 108 yang berbunyi:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (108

Artinya:

“Danjanganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Dalam Ayat ini Allah SWT melarang kepada Umat Islam untuk tidak mencela sesembahan orang non Muslim karena ada dampak negatif yang akan ditimbulkan yaitu mereka akan mencela balik kepada Allah sebagau Tuhan Umat Islam. Dari sini ada dua hal yang saling bertentangan yaitu ada kebaikan yang berdampak positif (Maslahah) juga ada dampak negatifnya (Mafsadat), namun setelah dikaji secara mendalam dampak negatifnya lebih dominan daripada berdampak positifnya, maka mencegah hal buruk (negatif) harus didahulukan, dikedepankan daripada mengambil manfaatnya. Jadi larangan mencela kepada sesembahan mereka harus didahulukan agar tak saling mencela satu dan yang lainnya terutama untuk menjaga toleransi Umat beragama seperti di Negara Indonesia.

baca juga: Misi Islam Mengajarkan Kebaikan

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya mengutip pendapat Imam Qatadah yang mengkisahkan bahwa orang muslim awal mencela berhala orang non Muslim, kemudian mereka berbalik mencela kepada Allah sebagai bentuk permusuhan, perlawanan tanpa didasari ilmu tentang ketuhanan.

Sedangkan menurut Syeh Nawawi al-Bantani dalam tafsirnya Marah Labid  menjelaskan bahwa Ayat ini melarang keras mencela berhala atau sesembahan apapun karena pada hakikatnya kita malah mencela Allah sebagai Tuhan manusia sendiri karena hal itu sebagai sebab mereka mencela Tuhan kita. Ada sebuah kaidah yang berbunyi:

الطاعة إذا أدّت إلى معصية راجحة وجب تركها فإن ما يؤدي إلى الشر شرّ

Sebuah ketaatan bila sampai mendatangkan kemaksiatan yang nyata maka wajib ditinggalkan, karena sesuatu yang mengarah kepada hal negatif atau kejahatan, maka dilarang.

baca juga: Hal-hal yang Menyebabkan Orang Masuk Neraka

Maka dari itu setiap pemeluk Agama apapun harus menjaga toleransi dengan tidak mencela bahkan menghina pemeluk agama lain, terutama menjelang Pilpres isu-isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) masih sering digunakan.

Jangan sampai perbedaan keyakinan, pilihan menjadikan hubungan sesama manusia kurang harmonis, misalnya bila terjadi kecelakaan dijalan, lantas keinginan menolong korban ditanggalkan cuma gara-gara beda keyakinan, sungguh keterlaluan.

Tafsir Surat Al An’am 108 tentang Larangan Mencela Sesembahan Non Muslim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *