Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 44: Jangan Menjadi seperti Lilin, Menerangi Sekitar namun Diri Terbakar - masholeh.com
0 views

Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 44: Jangan Menjadi seperti Lilin, Menerangi Sekitar namun Diri Terbakar

Di zaman millenial seperti sekarang ini memang terbuka untuk siapapun untuk mengkritik suatu pendapat, memberikan ide atau opini tentang apapun yang sedang hangat-hangatnya di media sosial. Sayangnya kontrol diri menghadapi perbedaan masih sangat lemah, masih banyak orang yang membuat kegaduhan dengan membuat berita kebohongan (hoax) padahal itu merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Di zaman millenial seperti sekarang ini memang terbuka untuk siapapun untuk mengkritik suatu pendapat, memberikan ide atau opini tentang apapun yang sedang hangat-hangatnya di media sosial. Sayangnya kontrol diri menghadapi perbedaan masih sangat lemah, masih banyak orang yang membuat kegaduhan dengan membuat berita kebohongan (hoax) padahal itu merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Komentar memang sangat mudah diucapkan namun sulit untuk diaplikasikan terhadap diri sendiri. Lidah yang tidak bertulang sangat lentur dan lincah gerakannya, terlebih dalam mengoreksi apa yang dilakukan orang lain. Maksudnya berapa banyak orang yang bisa berbicara ngalor ngidul bahkan pikirannya sering ngelantur dan ngawur tapi tak mampu berbuat apa-apa, ia lebih mengedepankan “talk more do less” yang seharusnya “talk less do more”. Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 44 yang berbunyi:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (44

Artinya:”Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”

Menurut Imam At-Thabari dalam Tafsirnya yang menukil pendapat Imam Juraij menjelaskan bahwa Ayat ini berkenaan dengan Ahli Kitab dan orang Munafik yang memerintahkan orang lain untuk melakukan Shalat, Puasa sedangkan mereka tak mau mengerjakan seperti yang ia katakan. Dari kejadian ini kemudian turun Ayat ini yang berisi celaan kepada orang yang bisa memberi nasehat namun tak bisa mengerjakan.

Hal senada juga dipaparkan oleh Imam As-Subuki dalam Fatawanya bahwa Maksud Ayat diatas menjelaskan bahwa orang yang menganjurkan orang lain untuk berbuat kebaikan dan melupakan dirinya sendiri itu termasuk perbuatan tercela.

Dari sini penting kiranya agar menjadi seorang panutan yang baik dihormati oleh masyarakat maka harus mengamalkan ilmunya sebatas kemampuannya. Masyarakat sekarang sudah cerdas memilih dan memilah orang yang pas dijadikan panutan bagi dirinya terutama dalam ilmu dan amalannya. Mengapa? Karena orang baru bisa dikatakan ‘Alim bila ia mengetahui ilmu dan mampu mengamalkan ilmunya sehingga ilmu yang ia dapatkan ada hasilnya yang mampu dimanfaatkan dirinya dan orang lain.

Maka yang menjadi kata kunci adalah “Don’t Talk More but Do More” jangan banyak bicara tapi banyak kerja itu menjadi kunci kesuksesannnya.

Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *