Tafsir Surat Ali Imran Ayat 159 tentang Anjuran Bersikap Lemah Lembut dalam Pergaulan

Manusia tak mampu hidup sendirian. Bila ada orang mengaku mampu hidup tanpa bantuan orang lain berarti ia telah menganggap bahwa dirinya sudah sempurna. Tanpa disadari, penyakit takabur sudah merasuki tubuhnya.

Allah menjadikan manusia sebagai makhluk yang lemah atau dhaif maksudnya ia akan selalu butuh anugerah dari-Nya serta membutuhkan pertolongan orang lain misalnya ketika ia hendak makan maka ia butuh orang yang memasak, sebelum memasak pasti ia membutuhkan bahan-bahannya seperti beras, sayuran, maupun daging. Berapa banyak orang yang terlibat di dalamnya mulai petani, supir, kuli, pedagang, tukang masak, maupun orang lain.

Dari sini, Islam menekankan pentingnya bersikap yang baik dan bijaksana dalam berhubungan dengan sesama karena pada prinsipnya seseorang akan selalu berdampingan bantu membantu, saling melengkapi satu dan yang lainnya maka dibutuhkan sikap saling menghargai, tak menang sendiri. Dalam Surat Ali Imran 159, Allah berfirman

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (159)

Maka dengan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159)

Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini sebagai petunjuk bahwa dalam diri Nabi Muhammad terdapat akhlak yang baik terutama sifat lemah lembut dalam pergaulan sehari-hari. Bila Nabi memiliki sifat yang keras niscaya umatnya akan lari darinya serta tak mau memeluk Islam. Sedangkan menurut Imam Ar-Razi dalam Tafsirnya Mafatih al-Ghaib mengungkapkan bahwa tujuan diutusnya Nabi Muhammad yaitu untuk menyampaikan kebenaran terutama tentang kewajiban yang harus dilakukan oleh manusia. Agar misi ini tercapai maka Nabi bersikap sopan santun tak arogan apalagi memaksa. Ini dibuktikan dengan sikap beliau yang menyayangi fakir miskin.

Dari penjelasan ayat ini, Nabi diperintahkan agar melakukan beberapa hal.

Pertama, Memaafkan kesalahan orang lain terutama kepada orang yang belum mengerti ajaran Islam. Ini merupakan akhlak yang baik yang harus dimiliki oleh setiap orang terutama dalam pergaulan akan menemui berbagai macam kendala yang tak sesuai dengan keinginannya maka sikap memaafkan merupakan kunci keberhasilan dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, memintakan ampunan kepada mereka atas segala dosa yang telah diperbuat. Ini menegaskan kepada umatnya agar selalu mendoakan kepada sesama terutama orang tua maupun guru-guru yang telah mengenalkan Islam kepadanya juga kepada sesama umat Islam.

Ketiga, anjuran untuk bermusyawarah dalam berbagai macam urusan. Walau Nabi Muhammad seorang yang terjaga dari dosa serta mendapatkan Wahyu dari Allah masih diperintahkan untuk bermusyawarah. Ini menunjukkan bahwa Nabi seorang yang terbuka akan berbagai macam masukan dari para sahabatnya bukan seorang yang otoriter atau suka memaksa kehendak orang lain.

Dari penjelasan ini, agar kita diterima oleh masyarakat sekitar maka harus terbuka tak menutup diri dari pergaulan serta mengedepankan akhlak yang baik terutama menjadi pribadi yang pemaaf kepada sesama manusia serta selalu bermusyawarah dalam menentukan kebijakan yang akan diambil sehingga semua pihak menerima dengan sikap lapang dada.

Bagikan

moh afif sholeh

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *