Tafsir Surat An-Nisa’ ayat 82 tentang Keistimewaan Isi Al-Qur’an

Al-Qur’an kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai mukjizat dan petunjuk bagi umat manusia yang bertujuan agar ia mendapatkan keberuntungan di dunia dan akhirat. Bila dipahami secara mendalam kandungan isinya maka akan didapatkan jutaan mutiara hikmah di dalamnya bahkan Imam Al-Ghazali dalam Jawahir al-Qur’an menyatakan bahwa al-Qur’an bagai lautan yang tak bertepi.

Salah satu mukjizat Al-Quran adalah keserasian, keindahan bahasa al-Qur’an serta tak ada kontradiksi satu dengan yang lain. Allah berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا (82)

Artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya,” (QS. an-Nisa’: 82).

Baca juga: https://masholeh.com/tafsir-surat-al-baqarah-21-22-inspirasi-hujan-menambah-keimanan/

Menurut Ibnu Abbas dalam Tafsir Tanwir al-Miqbas menyatakan bahwa ayat ini berisi anjuran untuk bertafakur, merenungi isi al-Qur’an saling melengkapi ayat satu dengan yang lainnya. Bila al-Qur’an diturunkan selain dari sisi Allah maka akan banyak bertentangan satu dengan ayat lain. Hal ini diperkuat oleh Imam Suyuthi dalam tafsir Jalalain, Ia menjelaskan bahwa isi kandungan Al-Qur’an sangat indah serta keteraturan susunan bahasanya.

Sedangkan menurut Imam Ar-Razi dalam tafsirnya Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa ketika Allah mengungkap berbagai rekayasa orang munafik yang tak mau mengakui kebenaran Al-Qur’an yang membenarkan risalah Nabi Muhammad tetapi mereka mengingkari isi kandungan Al-Qur’an maka Allah memerintahkan kepada mereka agar merenungi isi al-Qur’an terutama tentang kebenaran Nabi Muhammad.

Baca juga: https://masholeh.com/tafsir-surat-ali-imran-ayat-159-tentang-anjuran-bersikap-lemah-lembut-dalam-pergaulan/


Lebih lanjut, Ar-Razi menjelaskan maksud tadabbur yaitu menggali hikmah akhir segala sesuatu. Para Ulama’ mengungkapkan petunjuk Al-Qur’an yang memaparkan fakta kebenaran Nabi Muhammad dari beberapa segi. Pertama, dari kefasihan bahasa al-Qur’an. Kedua, al-Qur’an mengungkap hal-hal ghaib yang akan terjadi. Ketiga, kesempurnaan al-Qur’an yang tak ada kontradiksi di dalamnya.

Menurut Sayyid Bakri yang dikutip oleh Syeh Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’in menyatakan bahwa hal-hal yang menambah kekhusyukan dalam shalat yaitu memperpanjang ruku’ dan sujud serta menghayati isi al-Qur’an.

Dari sini dapat dipahami bahwa al-Qur’an kitab suci yang tak ada yang mampu menandinginya dan bila selalu dihayati dan direnungkan secara mendalam maka akan menambah ketenangan serta kekhusyukan dalam beribadah dan hidup bermasyarakat dengan orang lain.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *