Tafsir Surat Ar-Rum Ayat 22 tentang Hikmah Perbedaan Bahasa dan Warna Kulit

Allah SWT Maha sempurna, menciptakan segala makhluk-Nya yang berbeda-beda, dari yang larinya lambat sampai yang paling kencang. Dari yang kulitnya putih sampai yang hitam, dari yang berbahasa halus sampai yang kasar, dari bahasa orang ngapak sampai bahasanya para perompak. Semuanya menyimpan hikmah tersendiri yang harus digali oleh manusia.

Allah berfirman dalam Surat Ar-Rum:22 yang berbunyi:
وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ (22

Artinya:”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

Menurut al-Fairuzzabadi dalam Tanwir al-Miqbas mengutip penjelasan Ibnu Abbas bahwa ayat ini sebagai

petunjuk keesaan dan kekuasaan-Nya menciptakan langit dan bumi serta menjadikan perbedaan bahasa dan perbedaan jenis warna kulit, mulai yang hitam, cokelat sampai yang kemerahan dan warna lain. Semuanya sebagai petunjuk bagi jin dan manusia. Sedangkan menurut Imam Suyuti menjelaskan bahwa segala ciptaan-Nya ini sebagai petunjuk bagi orang yang mempunyai akal dan ilmu.

Dari sini dapat dipahami bahwa Allah menunjukkan kekuasaan-Nya melalui berbagai macam ciptaan-Nya, mulai penciptaan langit dan bumi serta perbedaan dalam bahasa dan warna kulit bertujuan agar manusia bertambah keimanan, serta lebih mengenal penciptanya sehingga menjadi manusia yang bertakwa, karena dengan ketakwaan, manusia menjadi makhluk yang paling mulia di hadapan-Nya, dengan tak merasa paling baik disebabkan perbedaan warna kulit atau bahasa.

Ayat diatas juga sebagai larangan diskriminasi terhadap orang lain yang berbeda, misalnya orang kulit putih dilarang mengucilkan atau meremehkan orang yang berkulit hitam.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *