Tafsir Surat Maryam 3-6 tentang Tawassul Nabi Zakariya

Seorang Nabi maupun Rasul juga manusia biasa, kadang merasa sedih, senang, serta bahagia bila melihat keturunan, maupun Umatnya selalu taat kepada Allah dengan mengikutinya. Ujian yang mereka hadapi berbeda dengan yang lain, ada yang dari faktor internal, seperti anak, istri maupun keluarga yang lain. Begitu juga dari ujian dari luar(eksternal) misalnya dari kaumnya, maupun penentang-penentangnya.

Seorang Nabi maupun Rasul juga manusia biasa, kadang merasa sedih, senang, serta bahagia bila melihat keturunan, maupun Umatnya selalu taat kepada Allah dengan mengikutinya. Ujian yang mereka hadapi berbeda dengan yang lain, ada yang dari faktor internal, seperti anak, istri maupun keluarga yang lain. Begitu juga dari ujian dari luar(eksternal) misalnya dari kaumnya, maupun penentang-penentangnya.

Salah satu ujian yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Zakaria adalah lama tak mempunyai keturunan sampai menginjak masa tuanya. Beliau tak bosan untuk berdoa agar diberi keturunan, karena melihat kondisi umatnya yang susah diatur, banyak kemunkaran dimana-mana, sedangkan kondisi istrinya divonis mandul, beliau hanya Tawakkal serta tak henti-hentinya untuk berusaha agar diberi keturunan.

Kisah ini tertuang dalam Al Qur’an Surat Maryam yang berbunyi:


 إِذ نادى رَبَّهُ نِداءً خَفِيًّا ﴿٣﴾ قالَ رَبِّ إِنّي وَهَنَ العَظمُ مِنّي وَاشتَعَلَ الرَّأسُ شَيبًا وَلَم أَكُن بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيًّا ﴿٤﴾ وَإِنّي خِفتُ المَوالِيَ مِن وَرائي وَكانَتِ امرَأَتي عاقِرًا فَهَب لي مِن لَدُنكَ وَلِيًّا ﴿٥﴾ يَرِثُني وَيَرِثُ مِن آلِ يَعقوبَ وَاجعَلهُ رَبِّ رَضِيًّا﴿٦

Artinya: yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut(3). Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku(4). Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera(5), yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”.(6)

Menurut Syeh Nawawi Al Bantani dalam Tafsirnya Marah Labid, ayat diatas menjelaskan tentang tawassulnya Nabi Zakaria agar diberikan keturunan sebagai pengganti kedudukannya dalam menuntun umatnya. ia merasa bahwa dirinya sudah tua renta, dan lemah fisiknya.

Nabi Zakaria berdoa di Mihrab, tempat merawat Siti Maryam, karena ia melihat kejadian yang luar biasa di sana, yaitu adanya buah-buahan yang disediakan oleh Allah kepada Siti Maryam.

Dalam kitab Isabah fi Ad Da’awat al Mustajabah, Imam Suyuti mengupas tuntas tentang doa yang dikabulkan oleh Allah, salah satunya berkaitan dengan tempatnya. Maka dari itu Nabi Zakaria tak mensia-siakan kesempatan untuk berdoa disana terkait keinginannya.

Leave a Reply