Telaah Kitab Hujjah Ahlussunah wal Jama'ah karya KH. Ali Maksum Krapyak (1) Menghadiahkan Pahala ke Mayyit, sampaikah? - masholeh.com
0 views

Telaah Kitab Hujjah Ahlussunah wal Jama’ah karya KH. Ali Maksum Krapyak (1) Menghadiahkan Pahala ke Mayyit, sampaikah?

Dalam pembahasan pertama dalam kitab Hujjah Ahlussunah wal Jama’ah karya KH. Ali Maksum Krapyak seputar pahala bacaan Al Quran, sedekah sampai kepada orang yang telah meninggal atau tidak?

Kitab Hujjah Ahlussunah wal jamaah karya KH. Ali Maksum Krapyak

Kitab Hujjah Ahlussunah wal jamaah karya KH. Ali Maksum Krapyak

KH. Ali Maksum merupakan salah satu kyai kharismatik yang dikenal banyak kalangan karena kejeniusannya serta mampu mengkader banyak tokoh-tokoh nasional. Beliau merupakan putra dari KH. Maksum yang lebih dikenal sebagai pendiri dan pengasuh pesantren Al Hidayat Lasem, Rembang.

KH. Ali Maksum pernah nyantri di Pesantren Termas, Pacitan. Pesantren ini terkenal dikarenakan salah seorang tokohnya menjadi ulama besar di Makkah yaitu Syeh Mahfudz At Tarmasi yang merupakan saudara kandung dari Kyai Dimyati bin Abdullah yang memimpin pesantren saat KH. Ali Maksum menjadi Santri.

Dalam muqaddimah kitab tersebut beliau menjelaskan bahwa

لما رأيت مسيس حاجة اخواني الطلبة بالمعهد الإسلامي (كـرابياك جقجاكرتا) خصوصا و غيرهم من امثالي القاصرين عموما الى بيان : أمثلة من المسائل التي لا ينبغي تبادل الإنكار فيها, مثل مسألة قبلية الجمعة و مثل مسألة تلقين الميت بعد الدفن و نحوهما. و أمثلة من المسائل التي أجمع عليها و تمسك بها أهل السنة و الجماعة,  مثل مسألة ثبوت شهري رمضان و شوّال بالرؤية  و مثل زيارة القبور  و نحوهما كي لا يستولي عليهم في دينهم الوساوس و الأوهام الباطلة و لا يتسلط عليهم الشيطان و اولياؤه بالإغواء و الإضلال, و لا يغـتروا تلبيسات اهل الأهواء, و ان كثر القيل و القال, و يعلموا حقا أن ما عليه السلف الصالح هو الحق المتـبع. فما بعد الحق الا الضلال؟

Artinya:
Saya memperhatikan para santri Pondok Krapyak Yogya khususnya dan kaum muslimin yang sangat terbatas keilmuannya pada umumnya sangat membutuhkan penjelasan tentang beberapa persoalan agama yang nampaknya sepele dan sebaiknya tidak perlu dipertengkarkan diantara sesama muslim, seperti masalah shalat sunnah qabliyah jum’at, talqin mayit dan lainnya. Juga beberapa persoalan agama yang sudah disepakati dan dipegangi oleh golongan Ahlussunnah wal Jamaah dalam kehidupan beragama  seperti penetapan awal bulan Ramadhan dan Syawwal berdasarkan rukyatul hilal, berziarah kubur, dan lainnya agar mereka tidak lagi merasa waswas dan ragu terhadap kebenaran amaliyah keagamaan mereka, tidak dijerumuskan oleh setan, tidak terjerumus ke jurang kesesatan, tidak mudah terkecoh dengan berbagai pandangan ngawur para pemuja hawa nafsu, dan agar mereka mengetahui dengan sebenarnya bahwa apa saja yang telah dilakukan oleh para ulama salaf as-shalih itu semuanya benar dan mesti diikuti, karena selain yang haq itu sesat.

Dalam pembahasan pertama dalam kitab tersebut seputar pahala bacaan Al Quran, sedekah sampai kepada orang yang telah meninggal atau tidak?

KH. Ali Maksum menjawab pertanyaan diatas dengan mengutip perkataan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawanya yang mengatakan:

إن الميت ينتفع بقراة القرآن, كما ينتفع بالعبادة المالية من الصدقة و نحوها.

Artinya:
Mayit dapat mengambil manfaat dari pahala bacaan ayat Al-Qur`an orang lain yang dihadiahkan kepadanya, hal ini sebagaimana ia juga dapat mengambil manfaat dari pahala ibadah maliyah (harta) seperti shadaqah dan sejenisnya.

Disamping itu, KH. Ali Maksum memaparkan beberapa pendapat dari kalangan empat Madzhab.

Pertama. Pendapat Ulama Madzhab Hanafi yang menyatakan bahwa

ان كل من أتى بعبادة سواء أكانت صدقة أم قراءة قرآن او غير ذلك من انواع البر, له جعل ثوابها لغيره و يصل ثوابها اليه.

Setiap orang yang melakukan amal ibadah, baik yang berbentuk shadaqah, bacaan ayat Al-Qur`an, maupun amal sholeh lainnya, ia boleh menghadiahkan pahalanya kepada orang lain dan kiriman pahala tersebut sampai kepadanya. 

Hal ini sesuai Hadist Nabi Muhammad

عن أنس أن النـبي صلى الله عليه و سلم سئل, فقال السائل : يا رسول الله, انا نتصدق عن موتانا و نحج عنهم و ندعو لهم, هل يصل ذلك اليهم؟. قال : نعم, انه ليصل اليهم و انهم ليفرحون به كما يفرح احدكم بالطبق اذا اهدي اليه

Artinya;
Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seseorang : “Sungguh, aku bersedekah atas nama mereka, berhaji atas nama mereka dan berdoa memohon kebaikan untuk mereka. Apakah pahala amal yang demikian itu sampai kepada mereka?”. Jawab beliau “Ya, pahalanya tentu akan sampai kepada mereka dan mereka pun merasa gembira dengan kiriman tersebut, sebagaimana kegembiraan salah seorang diantara kalian sewaktu menerima hadiah sepiring makanan

Kedua. Pendapat Ulama pengikut Madzhab Imam As Syafi’i yang menyatakan bahwa

ان الصدقة يصل ثوابها الى الميت باتفاق. و أما القراءة, فالمختار – كما في شرح المنهاج –  وصول ثوابها الى الميت. و ينبغي الجزم به لأته دعاء

Pahala sedekah sampai kepada mayyit. Tetapi pahala bacaan  Al-Qur`an, menurut pendapat yang terpilih sebagaimana yang dijelaskan didalam kitab Syarah al-Minhaj  sampai kepada si mayit.  Sebaiknya kita kokoh berpegang pada pendapat yang terpilih ini, karena ini merupakan suatu doa.

Ketiga. Pendapat ulama pengikut Madzhab Imam Malik

انه لا خلاف في وصول ثواب الصدقة الى الميت. و اختلف في جواز القراءة للميت. فأصل المذهب كراهتها. و ذهب المتأخرون الى جوازها, و هو الذي جرى عليه العمل, فيصل ثوابها الى الميت. و نقل ابن فرحون, انه الراجح

Tak ada perselisihan pendapat tentang sampainya pahala sedekah kepada mayit. Yang diperselisihkan adalah tentang bolehnya menghadiahkan pahala bacaan Al Qur`an dan kalimat thoyyibah lainnya) kepada si mayit. Pada prinsipnya madzhab maliki  menghukumi makruh hal tersebut.

Sedangkan para ulama mutakhirin (ulama akhir) memperbolehkan mengirim hadiah pahala bacaan, sebagaimana yang tercermin dalam amaliyah (tradisi) yang sudah berjalan selama berabad-abad di tengah masyarakat, dan pahala yang dikirimkannya pun dapat sampai kepada si mayit. Ibnu Farhun menukil suatu pendapat yang menyatakan bahwa sampainya pahala bacaan kepada mayit merupakan pendapat yang terunggul.

Keempat. Pendapat Madzhab Hanbali. Diakhir pembahasan ini, KH Ali Maksum mengutip pendapat Imam Abdul Wahhab As Sya’roni dalam kitab Mizan Al Kubro yang menegaskan  bahwa menurut madzhab Ahlu sunnah

أن للإنسان أن يجعل ثواب عمله لغيره, و به قال أحمد ابن حنبل

seseorang hendaklah menghadiahkan pahala amal sholehnya kepada orang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal.

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa pahala amal seperti sedekah, bacaan Al Quran yang dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia akan sampai kepada mereka.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *