Tersesat di Jalan Kebenaran

Setiap orang mempunyai pedoman dalam hidupnya, ibarat lentera menyinari sebuah jalan. Ada banyak cara menuju surga, tergantung amal yang ia lakukan, maka manusia tidak berhak menyatakan kebenaran mutlak datang dari dirinya.

Ada seorang santri yang sudah lama mengenyam ilmu keagamaan di Pesantren bertemu dengan seorang preman yang sedang dicari pihak kepolisian. Ia berpura pura hendak belajar ilmu agama di pesantren itu, supaya terhindar dari kejaran pihak berwajib. Terjadi dialog yang intens diantara keduanya.

Preman:“ Mas, saya mau tanya, apa betul ini pesantren Kiai Dalang?” ia bertanya.

Santri:“iya betul, Akang mau kemana emangnya?”jawabnya dengan santun.

Preman:“iya mau belajar disini karena saya termasuk orang awam dalam urusan agama.”tuturnya.

Kemudian santri tadi mengantarkan preman tadi menghadap Kiainya. Setelah menunggu beberapa menit, Kiainya keluar untuk menemui preman tadi, lalu mengobrol banyak hal, sebetulnya sang kiai tahu ada sesuatu yang dirahasiakan oleh tamunya, sejenak sang kiai mendapat ilham tentang hal ihwal tamunya. Akhirnya, Sang kiai tetap menjadikannya santri, tapi dengan syarat harus ikut mengabdi membantu kiai ke sawah dari pagi hingga siang. Kegiatan semacam ini ia lakukan tanpa pamrih, ia hanya mendapatkan makanan saja. Dari bimbingan dan arahan yang disertai keikhlasan sang kiai, preman tadi menjadi orang baik, serta ia merasa tenang, walau niat awalnya ke pesantren untuk menghindari kejaran polisi, ia merasa seolah tersesat, tapi dijalan kebenaran. Kedamaian yang ia dapatkan menjadi modal untuk mencari ketenangan yang hakiki kelak

Bagikan

moh afif sholeh

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

2 tanggapan untuk “Tersesat di Jalan Kebenaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *