Tiga Hal Penting sebagai Refleksi Akhir Ramadhan

Bulan Ramadhan akan segera berlalu. Namun apakah kita mampu memetik pelajaran penting di bulan suci ini lebih-lebih dalam kondisi bayang-bayang pandemi Covid 19?

Jawabannya dikembalikan kepada setiap individu masing-masing. Ia mampu memaksimalkan nikmat anugerah yang diberikan Tuhan atau tidak juga dirinya memahami atau sekedar ikut-ikutan belaka.

Imam Abi Ad-Dunya pernah mengutip perkataan seorang ulama yang bernama Sufyan bin Uyainah dalam pembahasan tentang ikhlas yaitu

كانَ العُلماء فيما مَضى يكتب بعضهم إلى بعض بهؤلاء الكلمات: مَنْ أصْلحَ سَرِيرَته، أصْلح اللّه علانيَّته، ومَنْ أصْلحَ ما بينهُ وبين اللّه، أصْلحَ اللّه ما بينهُ وبين النَّاس، ومَنْ عَمِلَ لآخرته، كَفَاهُ اللّه أمر دُنياه».اهـ. (رواهُ ابن أبي الدُّنيا في كتاب “الإخلاص”)

Sesungguhnya ulama-ulama zaman dahulu sering mengirim surat kepada sebagian ulama yang lain dengan beberapa nasehat.
Pertama. Barangsiapa yang memperbaiki dirinya saat sendirian maka Allah akan memperbaiki dirinya saat waktu keramaian. Kedua. Barangsiapa yang memperbaiki diri berkaitan dengan Tuhannya maka Allah akan memperbaiki dirinya dengan orang lain. Ketiga. Barangsiapa yang memperbaiki urusan akhiratnya maka Allah akan mencukupi urusan dunianya. (Riwayat Imam Abi Ad-Dunya dalam kitab Al Ikhlas).

Manfaat introspeksi diri (Muhasabah)

Introspeksi sangat penting dilakukan oleh setiap insan sebagai evaluasi diri akan kekurangan maupun kelebihan dirinya sehingga mampu mengoptimalkan potensi yang miliki.

Orang yang jarang introspeksi diri niscaya dirinya tak akan berkembang serta selalu tertinggal dalam berbagai hal. Lebih-lebih sebagai tokoh masyarakat harus selalu evaluasi diri terutama saat sendirian tak berkumpul dengan orang lain.

Baca juga: Nuzulul Qur’an: Momentum Penting untuk Kebangkitan Islam


Kebanyakan manusia dengan mudahnya selalu menyalahkan orang lain saat mengalami kegagalan dalam hidupnya. Padahal, bila ditelusuri secara mendalam kebanyakan orang gagal dikarenakan sering meremehkan hal-hal kecil yang dianggap sepele.

Untuk menyikapi masalah ini maka dibutuhkan kelapangan hati untuk selalu bersyukur saat menerima kenikmatan serta bersabar saat mendapatkan ujian maupun rintangan dengan berusaha semaksimal mungkin sehingga masalahnya menjadi terpecahkan. 

Pentingnya Mengoreksi Ibadah Yang Kita Lakukan

Manusia diciptakan bertujuan untuk beribadah kepada Allah. Peranan ibadah sangat penting bagi kehidupan seseorang sebagai bukti ketaatan kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta seisinya.

Pada hakikatnya Allah tak membutuhkan ibadah yang dilakukan oleh hambanya. Seumpama seluruh makhluknya durhaka kepadanya niscaya tak akan mengurangi kebesarannya.

Baca juga: 4 Prilaku Mukmin Sejati Seperti Ini

Manfaat ibadah akan kembali kepada dirinya sendiri. Jika ia beribadah sesuai prosedur yang telah ditentukan maka ia akan memperoleh pahala yang setimpal.

Agar urusan Dunia dimudahkan Perbaiki urusan Akhirat terlebih dahulu

Kehidupan dunia hanya sementara dibandingkan akhirat yang kekal selamanya. Penting kiranya seseorang membuat perencanaan untuk masa depannya sehingga dirinya tak tertipu apalagi terlena akan gemerlapan dunia.

Bila seseorang ingin mendapatkan kedudukan yang mulia maka harus mengetahui ilmunya. Tanpa ilmu niscaya amal ibadahnya sia-sia, sirna tanpa pahala.

Imam Ar-Razi dalam tafsirnya Mafatih al-Ghaib ketika menafsirkan potongan ayat yang berbunyi,



قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَىٰ 

Artinya:”Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, (QS. An-Nisa’: 77).

Ia menjelaskan bahwa akhirat lebih baik daripada dunia dari beberapa segi.

Pertama, nikmat dunia hanya sedikit. Sedangkan nikmat akhirat banyak tak terkira.

Kedua, Nikmat dunia hanya sementara. Sedangkan nikmat akhirat selama-lamanya.

Baca juga: Tafsir Surat An-Nisa’ 79 tentang Pentingnya Berintrospeksi Diri Agar Menjadi Pribadi yang lebih Berarti

Ketiga, nikmat dunia selalu bercampur kesedihan, kesusahan. Sedangkan nikmat akhirat sangat menyenangkan.

Keempat, Nikmat dunia belum pasti karena orang yang paling menikmati dunia belum mengetahui resikonya. Sedangkan nikmat akhirat pasti benarnya.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *