Tiga Jenis Keraguan

Manusia merupakan makhluk yang sempurna, ia dibekali anggota fisik dan akal untuk berfikir supaya menjadi terdidik. Di dalam kehidupannya, seringkali ia mengalami keraguan dalam menentukan pilihan atau ragu untuk berbuat.

Hal ini dianggap wajar karena banyaknya informasi yang masuk ke dalam pikiran seringkali menjadikan orang menjadi ragu dalam melangkah ke depan.

Imam Suyuthi dalam kitab Al-Asybah wa An-Nadha’ir mengutip pendapat Syeh Abu Hamid Al-Isfirayini yang mengkategorikan keraguan menjadi tiga jenis.

Pertama, Keraguan yang berasal dari hal yang haram, misalnya seseorang hendak memakan daging kambing dari sebuah tempat yang dihuni oleh orang Islam dan Majusi (penyembah api) maka ia tak boleh mengkonsumsi daging itu sampai ia mengetahui bahwa yang menyembelih dari orang islam. Hal ini berdasarkan kaidah asal segala sesuatu itu diharamkan. Bila umumnya di daerah itu penyembelihan hewan dilakukan oleh orang Islam maka diperbolehkan.

Kedua, Keraguan yang bersumber dari hal yang mubah, misalnya seseorang yang hendak menggunakan air yang berubah warnanya, ia ragu mungkin tercampur dari sesuatu yang najis atau menggenang terlalu lama maka ia boleh menggunakan untuk bersuci dengan asumsi yang lebih kuat bahwa asalnya air itu suci.

Ketiga, Keraguan yang tak diketahui sumbernya pijakannya, seperti bermuamalah atau berhubungan dengan orang yang kebanyakan hartanya dari hasil yang diharamkan tetapi belum jelas bahwa harta yang digunakan berasal dari sesuatu yang haram maka diperbolehkan bertransaksi dengannya karena dimungkinkan berasal dari yang halal serta tak tampak dari hal yang haram. Dan hal ini di hukumi makruh saja karena dikhawatirkan terjatuh pada hal yang terlarang atau diharamkan.

Dari sini keragu-raguan seseorang akan hilang bila ia mengetahui ilmu serta mampu memilah dan memilih sebuah hukum yang ada serta alasan yang melatarbelakanginya sehingga ia menjadi yakin dalam bertindak dan melangkah.

Bagikan

moh afif sholeh

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *