tidur, tafsir mimpi, mimpi, mimpi bertemu nabi

Tiga Kategori Mimpi yang perlu Dipahami

Ilmu tentang Mimpi sudah ada sejak dahulu kal. Para Nabi dan Rasul mengambil pelajaran dan hikmah yang terkandung dalam mimpinya. Bahkan awal permulaan wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad melalui mimpi yang baik menjelang waktu subuh.


Salah satu Nabi yang diberikan kemampuan untuk menafsirkan mimpi yaitu Nabi Yusuf bin Nabi Ya’kub. Syeh Abdul Ghani An Nablusi dalam kitab Ta’thirul Anam fl Tafsir Al Ahlam mengklasifikasikan mimpi kedalam tiga kategori.


Pertama. Mimpi sebagai kabar gembira dari Allah yaitu mimpi yang baik seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad.


Kedua. Mimpi menakutkan yang berasal dari pengaruh syaitan.

Baca juga:


Ketiga. Mimpi yang berasal dari pengaruh dirinya sendiri seperti saat ia mencintai seseorang sampai kebawa mimpi.

Dalil seputar Mimpi


Dalam Fatawa Dar Al Ifta Al Misriyyah ada penjelasan tentang cara untuk membedakan antara mimpi yang datangnya dari Allah yaitu saat isi mimpinya berisi kebaikan dan hal yang ia sukai. Sedangkan mimpi yang datang dari pengaruh syaitan yaitu saat mimpinya berisi hal-hal yang ia tidak sukai.


Hal ini seperti penjelasan dalam sebuah Hadis

ﻭﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻗﺘﺎﺩﺓ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ” اﻟﺮﺅﻳﺎ اﻟﺼﺎﻟﺤﺔ ﻭﻓﻲ ﺭﻭاﻳﺔ اﻟﺮﺅﻳﺎ اﻟﺤﺴﻨﺔ ﻣﻦ اﻟﻠﻪ، ﻭاﻟﺤﻠﻢ ﻣﻦ اﻟﺸﻴﻄﺎﻥ، ﻓﻣﻦ ﺭﺃﻯ ﺷﻴﺌﺎ ﻳﻜﺮﻫﻪ ﻓﻠﻴﻨﻔﺚ ﻋﻦ ﺷﻤﺎﻟﻪ ﺛﻼﺛﺎ، ﻭﻟﻴﺘﻌﻮﺫ ﻣﻦ اﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻻ ﺗﻀﺮﻩ” ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ

Artinya: Diriwayatkan dari Abi Qatadah radhiyallahu anhu berkata: Nabi Muhammad SAW bersabda: mimpi yang baik datangnya dari Allah. Sedangkan mimpi yang buruk datangnya dari pengaruh syaitan. Barangsiapa bermimpi hal yang tidak disukai maka hendaklah meniup ke kiri tiga kali serta meminta perlindungan dari godaan syaitan karena hal itu tak akan memberikan madharat kepadanya. (Muttafaq Alaihi).

Begitu pula ada penjelasan Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari terkait mimpi yang baik.

من لم يؤمن بالرؤيا الصالحة لم يؤمن بالله واليوم الآخر. رواه البخاري

Artinya: Barangsiapa yang tidak beriman kepada mimpi yang baik maka ia termasuk orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. (HR. Bukhari).

Dari sini, orang yang bermimpi harus mampu membedakan antara mimpi yang datangnya dari Allah atau dari pengaruh bisikan syaitan sehingga dirinya tak tertipu dengan mimpi sendiri.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)