Tiga Sumber Kejahatan yang perlu Diwaspadai

Semenjak Nabi Adam dan istrinya siti Hawa diturunkan dari Surga, Allah telah memberi gambaran kepada keturunannya bahwa mereka terbagi menjadi dua kategori, Pertama, orang yang mendapatkan petunjuk atau hidayah serta mau mengikutinya. Kedua, orang yang mengingkari kebenaran Ayat-ayat-Nya.

Hal ini sesuai dengan keterangan dalam Surat al-Baqarah ayat 38-39 yang berbunyi:

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (38) وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (39

Artinya: Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Abu Abdurrahman as-Sulami dalam Tabaqat As-Sufiyah mengutip perkataan Said bin Ismail atau yang lebih dikenal Abu Usman menjelaskan:

أصلُ العداوةِ من ثلاثة أشياء: من الطَّمعِ في المال؛ و الطَّمعِ في إكرام الناسِ؛ و الطَّمع في قَبُول الناس “

Artinya: Sumber permusuhan berawal dari tiga hal: tamak dalam urusan harta, gila penghormatan, tamak agar diterima oleh manusia.

Dari penjelasan diatas dapat dipaparkan bahwa sumber permusuhan berawal dari tiga hal ini, yaitu:

Pertama, Gila harta. Ini sebagai faktor utama seseorang berani berbuat hal-hal yang terlarang misalanya berani membunuh disebabkan faktor ekonomi.  Seseorang memang membutuhkan materi, namun harus mengikuti aturan tak sampai menghalalkan segala cara, serta mampu membagi waktu agar tak terjadi ketimpangan dalam hidupnya antara hak dan kewajiban.

Kedua, gila penghormatan. Manusia rela melakukan apapun agar hidupnya menjadi lebih baik terutama mendapat kedudukan yang mulia dimasyarakat, namun kadang sampai mengorbankan harga dirinya dengan menipu, mengadu domba masyarakat demi kehormatan dirinya sendiri maupun kelompoknya.

Ketiga, gila kedudukan atau pangkat. ini salah satu faktor yang menjadikan tertutup mata hatinya, karena ia sudah tak menghiraukan norma yang berlaku, ia hanya berperinsip semaunya sendiri tanpa memikirkan orang lain demi kedudukan yang ia inginkan.

Ketiga hal ini sebagai sumber kejahatan, kemaksiatan yang akan menghancurkan tatanan kehidupan, juga penghancur kerukunan dalam berbangsa dan bernegara, maka harus dijauhi agar hidup kita semakin berarti.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *