Tiga Sumber Kejahatan

3 aspek kejahatan berkembang sampai sekarang dengan cara dan corak yang berbeda yang perlu dicermati

Beberapa tahun ini, masyarakat seringkali dihebohkan dengan adanya tontonan kurang terpuji yang dilakukan oleh beberapa oknum elite politik yang saling tuduh menuduh dengan yang lain.

Kejadian ini banyak pelajaran yang kita dapatkan diantaranya, kepentingan politik seringkali mengalahkan norma dan etika dalam menyikapi perbedaan pendapat, ini disebabkan semua golongan merasa paling pantas, daripada pihak yang lain.

3 Sumber Kejahatan

Abu Allais Assamarqandi dalam kitab Tanbihul Gofilin bahwa sumber segala kejahatan ada 3 hal yaitu kesombongan, keserakahan, iri hati

  1. Kesombongan, hal ini yang dilakukan pertama kali oleh iblis yang merasa paling hebat, lebih utama dari Nabi Adam terkait masalah perbedaan penciptaan saja, kesombongan ini mengakibatkan terusirnya Iblis dari tempat yang mulia yaitu surga. Begitu juga siapa pun yang merasa dirinya lebih dari orang lain, maka tinggal menunggu keruntuhannya.
  2. Keserakahan, hal ini dilakukan oleh Nabi Adam ketika disurga, yang berambisi ingin selalu berada disana, akhirnya segala cara dilakukan, walau harus melakukan hal yang dilarang oleh Allah.
  3. Iri hati atau Hasud, ini berawal dari kisah Qobil yang tidak terima atas keputusan Nabi Adam menikahkan putra putrinya secara silang antara kedua pasangan, akhirnya Qobil membunuh adiknya Habil kandungnya sendiri.

Dari 3 aspek diatas kejahatan berkembang sampai sekarang dengan cara dan corak yang berbeda. maka sebaiknya kita yang menerima amanat menggunakan sebaik baiknya, bukan untuk kepentingan pribadi maupun golongan, serta memberi tauladan yang baik buat masyarakat, sehingga tercipta suasana yang kondusif, terutama para pejabat yang mempunyai kekuasaan untuk mengayomi rakyatnya

Hal ini seperti dalam kaidah fikih yang berbunyi:

ﻳﺪﺧﻞ اﻟﻘﻮﻱ ﻋﻠﻰ اﻟﻀﻌﻴﻒ، ﻭﻻ ﻋﻜﺲ

Artinya: seorang pejabat bisa masuk ke orang kalangan orang kecil,  sebaliknya orang kecil tidak mudah menemui para pejabat.

Kaidah ini kalau dipraktekkan di negara kita sangat cocok  terkait seorang pejabat yang suka blusukan ke plosok-plosok daerah,  sebaliknya orang daerah tidak mudah untuk menyambangi para wakil rakyat. Semoga pemerintah kita mamapu memberikan keadilan kepada rakyatnya.

Leave a Reply