Tiada satu pun manusia yang terlahir ke Dunia ini dalam keadaan berilmu. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak mampu merespon permasalahan dirinya maupun orang lain kecuali dengan adanya proses belajar yang terus menerus, karena pada hakikatnya ilmu bisa didapatkan dengan cara belajar, bukan melalui wirid atau tiduran.

Kriteria Ulama’ yang Dicintai Masyarakat, Ini Tiga Tugas Utamanya

Kata “Ulama” merupakan jamak dari kata “Alim” yang berarti orang yang mengetahui. Ulama diidentikkan dengan orang yang pakar dalam bidang ilmu Agama dan mampu mempraktekkan ilmunya. Kata “Ulama” diabadikan dalam al-Qur’an yaitu pada Surat Fatir: 28

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ

Artinya: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.

baca juga: http://masholeh.com/mukminah-binti-bahlul-ulama-perempuan-yang-ahli-makrifat/

Imam As-Syahrastani dalam kitab Al-Milal Wa an-Nihal mengutip perkataan Hermes atau yang dikenal dengan Nabi Idris:

من أفضل أعمال العلماء ثلاثة أشياء: أن يبدلوا العدو صديقا، والجاهل عالما، والفاجر برا.

Diantara tugas pokok seorang Ulama itu ada tiga: Merubah musuh menjadi seorang sahabat, orang bodoh menjadi orang yang alim, serta merubah orang jahat menjadi orang yang bertaubat.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa seorang ulama mempunyai tiga tugas penting selain mengajarkan ilmu dan mempraktekkannya, diantaranya:

Pertama, merubah seorang musuh menjadi seorang teman baik. Ini merupakan tugas berat yang membutuhkan skill, pengalaman, serta kesabaran yang tinggi. Hal ini telah dipraktekkan oleh Nabi kepada para musuh-musuhnya yang selalu menghina, bahkan hendak membunuhnya, lambat laun mereka berubah menjadi sahabat setia serta menjadi pembela utama.

baca juga:http://masholeh.com/izzuddin-bin-abdussalam-ulama-yang-mulai-belajar-di-usia-senja/

Kedua, Ulama bertugas mengajarkan ilmu yang ia miliki kepada keluarganya terlebih dahulu sebelum kepada khalayak masyarakat yang membutuhkan Ilmunya. Hal ini diharapkan agar masyarakat tercerahkan, menjadi lebih tahu akan kewajiban yang harus dilaksanakan sehingga hidup mereka menjadi tertata.

Ketiga, Berusaha mengarahkan kepada masyarakat agar menjadi lebih baik prilakunya, sehingga menjadi manusia yang baik. Dari sini tugas ulama sebagai cermin masyarakat harus mampu memberi suri tauladan yang baik.

Dalam melaksanakan tugas-tugasnya, Ulama mempunyai cara yang berbeda-beda, ada yang lewat ceramah dari panggung ke panggung, atau dari mimbar ke mimbar, ada juga yang lewat politik, juga ada yang dakwah lewat tulisan, atau sembari usaha terutama dalam bidang ekonomi.

baca juga: http://masholeh.com/ulama-yang-terkecoh-jamaahnya/

Maka bila ada perbedaan pendapat diantara Ulama, maka masyarakat harus bijak memahaminya terutama sebagai ajang pendewasaan dalam berpikir serta mengahargai pendapat yang beragam.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *