doa nabi

Tingkatan Doa Menurut Syeh Abdul Qadir Al-Jilani

Doa merupakan permintaan kepada Allah SWT agar tercapai hajat seseorang, serta hal itu dianggap sebagai ibadah. Pada hakikatbya doa berfungsi sebagai bentuk pengakuan ketidakberdayaan hamba  di hadapan-Nya.

Menurut Syeh Abdul Qadir Al-Jilani dalam kitab Sirrul Asrar menjelaskan bahwa:

الدعاء على ثلاث درجات : تعريض وتصريح وإشارة

Doa mempunyai beberapa tingkatan: pertama, dengan samar atau sembunyi, kedua, jelas. Ketiga, menggunakan isyarat.

baca juga:http://masholeh.com/ini-hakikat-berdoa/

Dari pemaparan diatas dapat diketahui bahwa tingkatan doa ada tiga, yaitu:

Pertama, Tashrih (تصريح) yaitu ketika doa yang dibaca secara jelas akan pelafalannya. Hal ini seperti permintaan Nabi Musa AS yang tertuang dalam Surat al-A’raf: 143 yang berbunyi:

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ

Artinya:Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. 

baca juga: http://masholeh.com/alasan-nabi-menyimpan-doa-khususnya/

Kedua, Ta’ridh (تعريض). Yaitu ketika berdoa dalam hati atau hanya dibatin saja, atau juga diucapkan secara sembunyi.

Ketiga, berupa isyarat. Hal ini berupa prilaku atau perbuatan yang disembunyikan tak diketahui oleh orang lain, seperti doa Nabi Ibrahim yang tertuang dalam Surat al-Baqarah: 260 yang berbunyi:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”.

Hal ini juga pernah dilakukan oleh Nabi saat shalat Istisqa’ (meminta hujan), beliau membalikkan selendangnya, ini bertujuan agar segera terjadi perubahan, yang awalnya kekeringan menjadi dimudahkan turun hujan, apa yang dilakukan Nabi merupakan doa dengan menggunakan isyarat, seperti tertuang dalam sebuah Hadits:

عن عباد بن تميم عن عمه  قال خرج النبي صلى الله عليه وسلم إلى المصلى فاستسقى واستقبل القبلة وقلب رداءه وصلى ركعتين. رواه مسلم

Diriwayatkan dari Ibad bin Tamim dari pamannya berkata: Nabi keluar menuju tempat shalat istisqa’ dengan menghadap kiblat, serta membalikkan selendangnya, kemudian shalat dua rakaat.

baca juga: http://masholeh.com/doa-yang-paling-didengar-allah/

Dr. Musa Syahin dalam Fathul Mun’im Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi membalikkan selendangnya dengan tujuan Tafaul (sebuah harapan) agar cepat diberikan perubahan, yang awalnya kekeringan menjadi tercukupi sumber airnya melalui air hujan.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa tata cara berdoa sangat beragam, maka dari itu jangan mudah menyalahkan orang lain yang berbeda cara berdoanya dengan kita, bisa saja ketidaktahuan seseorang menjadi penghalang untuk menemukan kebenaran itu sendiri.

 

 

 

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *