sakit, menjenguk

Walau dari Keluarga Sederhana, ini 10 cara menjadi Orang Mulia

Setiap orang selalu bermimpi dan berharap agar hidupnya mulia, cukup harta bendanya, anak-anaknya menjadi orang yang taat. Namun untuk mewujudkannya membutuhkan proses yang panjang, bahkan pengorbanan lahir dan batin. Banyak orang yang gagal dalam mendapatkannya karena tidak sabar menghadapi ujian yang dihadapi. Berapa banyak anak orang mulia menjadi hina karena tak mampu menyikapi keadaan seperti orang tuanya dulu. Begitu juga berapa banyak anaknya rakyat jelata mampu mengalahkan tokoh-tokoh utama dalam masyarakat atau Negara.

Ini semua harusnya menjadi bahan evaluasi bersama agar hidup kita semakin terarah tak semakin merosot dan parah. Karena dengan adannya koreksi diri sendiri akan mengetahui seberapa besar potensi yang perlu dikembangkan sehingga menjadi manusia yang bermartabat walau orang tuanya bukan seorang pejabat.

Al-Qur’an menjelaskan banyak kisah dari keluarga seorang Nabi yang anak atau istrinya tak mau beriman bahkan menentang ayahnya sendiri seperti   Qabil berani membunuh saudaranya sendiri, Kan’an anaknya Nabi Nuh tak mau mengikuti ayahnya, bahkan istrinya Nabi Nuh juga tak mau taat kepada suaminya. Begitu juga istrinya Nabi Luth yang membangkang dari perintahnya.

Syeh Zarnuji pengarang kitab Ta’lim al-Mutaallim menjelaskan bahwa seseorang yang berilmu akan menjadi mulia bila ia menggunakannya untuk kebaikan dan ketaatan karena hal itu sebagai sarana mendapatkan kemuliaan dihadapan Allah dan Makhluk-Nya.

 

Abu Al-lais As-samarkandi dalam Tanbih AL-Ghafilin menjelaskan ada beberapa faktor seseorang akan menjadi orang yang mulia, diantaranya adalah: Pertama, dengan memperbanyak sedekah. Kedua, memperbanyak membaca Al-Qur’an. Ketiga, sering mengikuti pengajian yang selalu mengingatkan akan akhirat sehingga tak gila akan urusan dunia. Keempat, bersilaturrahmi. Kelima, Menjenguk orang yang sakit. Keenam, tak terlalu bergaul dengan orang kaya harta yang lupa akan akhirat. Ketujuh, memperbanyak berfikir (taffakkur)untuk masa depannya. Kedelapan, tak terlalu berangan-angan kosong. Kesembilan, mengurangi banyak bicara hal yang tak berguna. Kesepuluh, bersikap rendah hati atau tawadhu’ dan menyayangi orang miskin.

Hal diatas merupakan perbuatan yang terpuji bila diamalkan akan menambah mulia harga diri seseorang walau ia bukan berasal dari keluarga yang mapan dan terhormat.

 

 

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *