Wasiat Sang Guru

Ada sebuah kampung yang penghuninya semuanya perempuan,  setelah diselidiki para lelaki mereka di haruskan bekerja di luar kota,  mereka kumpul dengan keluarga setahun hanya sekali,  itu pun dibatasi waktunya. Hal ini karena leluhur yang mengajarkan kebiasaan seperti ini. Topan salah satu warga asli tempat itu yang telah bekerja,  sambil menyelesaikan sekolah,  serta melalang buana ke berbagai Kota di Dunia. Ia selalu ingat wasiat Gurunya yang berisi:

“Nak,  kelak bila kamu menjadi tokoh yang berpengaruh, jangan melupakan orang tua dan gurumu, dan amalkan ilmumu, serta jadilah kau seperti air,  selalu menyejukkan,  dan dibutuhkan semua orang, air selalu mendatangi tempat yang lebih rendah, artinya dengan ilmu yang kau dapatkan seharusnya kamu mengayomi, menyayangi, bukan membuat masyarakat bingung, gaduh, semoga kamu menjadi orang santun. ” wasiat gurunya sebelum meninggal. 

“Iya guru,  saya berusaha akan melaksanakan wasiat engkau.” tuturnya sambil meneteskan air mata. 

Setelah beberapa bulan, bertepatan dengan saatnya waktu warga kampung itu pulang untuk menemui keluarganya setelah bekerja hampir setahun di tanah rantau,  Topan bertemu dengan beberapa warga,  tokoh masyarakat,  untuk membicarakan tentang hal ihwal tentang sebagian warga yang melakukan hura-hura, pesta minuman keras,  sehingga membikin gaduh warga yang lain setelah mereka pulang dari bekerja.

Pendekatan yang dilakukan oleh Topan belum membuahkan hasil, malah ia dimusuhi,  diintimidasi,  sampai mau dibunuh,  dengan kegigihan dan kesabaran yang tinggi,  dan sifat santunnya, akhirnya, ia dibantu oleh banyak warga untuk membenahi prilaku prilaku yang menyimpang dari norma yang ada, dengan waktu yang singkat hasilnya memuaskan, ini berkat wasiat gurunya yang sangat bijak dalam menyikapi masalah di masyarakat. 

Oleh: Moh Afif Sholeh

Bagikan

moh afif sholeh

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

5 tanggapan untuk “Wasiat Sang Guru

  • 11 September 2019 pada 6:27 am
    Permalink

    Bermanfaat

    Balas
  • 11 September 2019 pada 6:31 am
    Permalink

    Bagus sekali ceritanya, ini adalah masalah yang bisa ditemukan dimana mana

    Balas
  • 11 September 2019 pada 6:36 am
    Permalink

    Isi nya bisa langsung di cerna mantap

    Balas
  • 11 September 2019 pada 6:44 am
    Permalink

    Terharu dan bertambah ilmu.
    Kritik:Kenapa dibatasi waktu pulang selain masalah kerja?Seorang guru seperti air mengalir ke batu yaitu muridnya, tetapi walau begitu air bisa merendamkan batu yang tidak bisa ngapung.Dan pada kemarau air akan kering dan batu akan panas, jadi bagaimanakah dia yang sangat panas yang sakit untuk di pegang?

    Maaf kalau bapak tidak mengerti anologi saya yang ini.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *