sedih

Waspadalah akan Bala’ yang Paling Berat Ini

Dunia ini merupakan ladang untuk menanam investasi kebaikan yang kelak akan dinikmati kelak diakhirat. Di dalam alam ini juga sebagai tempat ujian kehidupan, manusia mampu menjadi orang yang bersyukur ataupun orang yang kufur terhadap nikmat Allah dzat yang maha pengatur.

Realita di masyarakat, seringkali terjadi gesekan kecil antara suami istri atau dengan tetangga, warga sekitar yang berubah menjadi konflik horisontal yang berkepanjangan sehingga memakan banyak korban dan ludesnya materi yang mereka miliki. Banyak orang rela mencuri, membunuh demi mencukupi nafkah keluarganya yang sedang kekurangan.

Abu al-Lais as-Samarkandi dalam Bustanul Arifin mengutip perkataan Imam al-Hasan yang menyatakan bahwa ujian terberat bahkan termasuk kategori bala’ ada empat kategori.

Pertama, banyaknya anggota keluarga yang harus ia cukupi kebutuhannya sehingga ia merasa berat memikul beban dan tanggung jawab ini. al-Qur’an mengarahkan manusia agar dirinya mempersiapkan segala kebutuhan keluarganya maupun yang menjadi tanggung jawabnya sehingga keturunan tak menjadi manusia yang lemah akal, ilmu, maupun bekal materi bagi keberlangsungan hidupnya.

Kedua, saat kekurangan harta benda menjadikan seseorang kadang buntu pikirannya. Memang betul uang bukan segala-galanya namun mau membeli sesuatu harus memakai uang maka saat seseorang sedang pailit merasakan beban yang cukup berat terutama saat anak-anaknya ingin jajan namun tak ada yang maka ia merasakan kesedihan yang mendalam.

Ketiga, ujian terbesar seseorang juga berasal dari faktor eksternal yaitu tetangga yang kurang baik prilakunya, mereka sering menyakiti tetangganya melalui lisan maupun tulisan statusnya yang suka nyinyir maupun suka nyindir. Contoh kejadian yang terjadi adalah manakala tetangganya membeli kulkas hatinya tambah panas, tetangganya beli apartemen pikirannya bertambah sentimen.

Keempat, ujian terbesar seseorang adalah saat istri mengkhianati suaminya maupun sebaliknya suami mengkhianati istrinya dengan janji maupun rayuan gombalnya kemudian meninggalkannya dikarenakan ada pihak ketiga yang telah menggerogoti keutuhan rumah tangganya.

Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa seseorang harus mempersiapkan masa depannya berbekal ilmu pengetahuan serta materi untuk mencukupi kehidupan dirinya maupun keluarganya sehingga ia mampu melewati segala ujian kehidupan yang dihadapi oleh setiap orang sehingga ia tak menjadi manusia yang pasrah dengan keadaan maupun selalu bergantung kepada orang lain.

Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Seorang penggiat literasi, serta aktif di kajian ISMA' Center (Islami Studies and Maqasid Al-Syariah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *